RSS

Mudik [1]. “Ha, Tiketnya Habis”!


“Maaf Pak, tiket kelas bisnis sudah habis,” kata operator pemesanan tiket Kereta Api sistem online kelas bisnis Cirebon Ekspres 25 hari sebelum lebaran. Mendengar jawab operator saya kaget dan heran karena pemesanan masih lama tapi bisa habis.


OLEH ABU FADIA


Sejak PT Kereta Api Indonesia melalui operatornya menyatakan bahwa tiket kereta jurusan Gambir-Tegal habis, saya langsung berunding dengan istri untuk membuat kebijakan baru tentang mudik. Waktu itu ada beberapa alternatif yaitu membatalkan mudik, menggunakan jasa rental mobil, minta dijemput dari rumah dan terakhir pakai jasa bus.

Setelah membuat berbagai pertimbangan yang rasional terutama rasionalisasi budget anggaran akhirnya kita memilih menggunakan jasa angkutan umum bus. Pada Senin (23/8) sekira pukul 10.00 WIB kami berdua meluncur ke agen bus Sinar Jaya di dekat Kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten, tepatnya 200 meter dari gerbang kampus beralmamater merah hati ini.

Di Agen Sinar Jaya tampak beberapa orang yang bermaksud sama dengan kami yaitu membeli tiket untuk mudik. “Waduh, untuk tanggal 7,8,9 sudah penuh paling ada untuk tanggal 6, itupun harus ikut bus jurusan Serang-Wonosobo,” kata salah seorang petugas penjual tiket kepada kami berdua. Untuk kali keduanya saya kaget dan menarik nafas, sempat bingung apakah tetap kita paksakan mudik. Waktu mudik saya yang rasional adalah mulai tanggal 6 jika tanggal sebelumnya maka tidak memungkinkan karena kantor belum libur.

Kurang lebih 10 menit saya berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan tetap mudik meski tanggal kepulanganya meleset dari waktu yang direncanakan. Bayangkan, bus yang akan kita tumpangi adalah jurusan Serang-Wonosobo sementara saya turun di Kota Brebes, Jawa Tengah. “Itukan setengah perjalanan lagi, masih jauh,” gumam saya dalam hati. Ini tentu akan menambah biaya perjalanan karena ongkos yang semestinya Rp 65.000 menjadi Rp 100.000 per orang. Lobi istri agar tetap dihitung sesuai tujuan kami ternyata gagal, biasa kalau cuaca lebaran jangan berharap bisa lobi soal harga tiket hampir dipastikan gagal.

Kami langsung boking tempat di kursi deretan kedua karena pada dertan pertama sudah dipesan. Meski semua perencanaan meleset tapi kami tetap senang karena akhirnya bisa mudik ke kampung halaman. Kami tidak memiliki alasan untuk menunda silatuarahim dengan orangtua ataupun mertua. Mudah-mudahaan perjalanan di bus mengasikan dan tidak terjebak macet.***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hah…Fadia Mau ke Bulan?


Ha, Fadia mau ke bulan?, pakai apa?”. Itulah ekspresi kami yang kaget saat Fadia, anak pertama kami yang berumur dua tahun dua bulan mengungkapkan keinginannya pergi ke bulan.

OLEH UMMI & ABI FADIA

Dede Dia mau ke bulan pakai baju astronot, terus pakai pesawat ulang-alik,” kata Fadia menjawab pertanyaan kami berdua. Jujur, kami merasa kaget dan bangga karena di usianya yang baru dua tahun dua bulan, Fadui sudah mengenal bulan, astronot dan pesawat ulang-alik. Meski sederhana tapi bagi kami ini adalah prestasi yang luar biasa karena sudah memiliki perbendaharaan kata-kata sains. Mengetahui kesempatan emas ini kami berdua pun terus memancing imajinasinya, kami terus memberkan stimulus dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Fadia.

Kalau ke bulan, Abi dan Ummi diajak ga?” tanya suami kepada Fadia. Mendapat pertanyaan ini, Fadia bukan hanya menjawab Abi dan Ummi yang akan diajak tapi juga anggota keluarga lain seperti bule, om, mba.

Abi diajak, Ummi diajak, Bule diajak, Om Ari diajak, Mba juga diajak. Dede Dia duduk sama Ummi dan Abi,” kata Fadia sambil menggerakan kedua tangganya seperti seorang guru yang sedang menjelaskan kepada anak didiknya.

Kegiatan membaca adalah kegiatan yang paling dominan yang aku lakukan dengan Fadia. Sebagai ibu yang memiliki latar belakang sains dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, saya seringkali mendekatkan Fadia dengan wawasan sains baik melalui buku ataupun peristiwa alam yang ada di sekitar rumah.

Salah satu buku sains yang kali pertama mengenalkan Fadia dengan bulan adalah Word Book Picture. Didalam buku ini, diceritakan tentang kegiatan kakak beradik yang sedang mengamati fenomena bulan. Selain itu, di buku ini diterangkan juga tentang beberapa bentuk bulan yaitu, purnama, bulan separuh dan bulan sabit. Bulan sepertinya menjadi favorit Fadia. Bulan purnama misalnya, dia selalu minta menggoreng telor sendiri karena bentuknya bulat mirip bulan purnama. “Tuh Bi, kaya bulan purnama,” teriak Fadia saat melihat bentuk telor yang digoreng bulat.

Selain bulan purnama, Fadia juga menyukai bulan sabit. “Tuh Bi, bulan sabut di atas,” teriak Fadia ketika melihat bulan sabit di atas langit. Selain sudah bisa memiliki keinginan pergi ke bulan, astronot dan pesawat ulang-alik, Fadia juga sudah bisa menyampaikan cita-citanya.

Kalau ditanya apa cita-cita Fadia maka dia akan menjawab ingin menjadi dokter anak. “Fadia ingin jadi dokter anak,” katanya dengan gayanya yang lucua. Semua itu anugerah dari sangka pencipta, tugas kita sebagai orangtua adalah memberikan stimulus agar otak dan pemikirannya terpancing. Sebagaimana diungkapkan para ahli bahwa usia dua anak adalah usia keemasan yang akan menentukan kecerdasan anak di masa mendatang.****


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gelap, Minyak Jelantah Pun Nyala


"Waduh, mati listrik lagi. Bagaimana sih PLN ini, giliran bayar tidak boleh terlambat tapi pelayanan byar pet, byar pet. Mana hari sudah malam, hujan lagi,” gerutu suami saya ketika listrik mendadak mati sekira pukul 18.30 WIB.

OLEH UMMI FADIA,S.Si

Usai shalat maghrib berjamaah di rumah, seperti biasa kami bercengkrama di ruang tamu. Fadia yang memasuki usia dua tahun bertingkah lucu, suka nyanyi sendiri dan selau melompat-lompat di atas kasus. “Ini anak tipenya kinestetik dan language, nanti sekolahnya di Peradaban saja yah,” kata suami kepada saya sambil melihat Fadia yang cengar-cengir.

Sekolah Peradaban adalah sekolah alam di Kota Serang, Provinsi Banten, yang dikelola teman-teman suami. “Umi, Umi,” teriak Fadia saat tiba-tiba listrik mati. Suasana mendadak ramai, saya mencari lilin sedangkan suami mengamankan Fadia.

Lilin kemana yah, waduh ternyata habis juga, tapi tidak perlu beli Bi, nanti Ummi carikan solusi sepertinya pakai minyak jelantah bisa nyala,” kata saya kepada suami. Setelah mondar-mandir mencari gelas hias yang biasanya digunakan untuk penerangan kolam mungil di taman rumah akhirnya suasana mulai tenang.

Empat gelas ukuran mini telah dikumpulkan ke dalam satu tempat. “Beli lilin saja sih Mi,” kata suami yang ingin praktis dan tidak perlu repot-repot. Selang beberapa menit kemudian, kedipan lampu dari minyak jelantah yang ditaruh di gelas mungil tampak. “Tuh kan nyala, Ummi gito loh. Akhwat jenius,” kata saya kepada suami sambil membanggakan diri.

Bulan Februari 2010 sering terjadi pemadaman bergilir di beberapa wilayah Kota Serang, Provinsi Banten, dimana saya berlabuh. Konon, ini akibat PLN kekurangan pasokan listrik yang sebetulnya alasan ini membuat saya bingung. “Laut kita luas, angin juga cukup, banyak energi alam yang bisa dimanfaatkan menjadi sumber tenaga listrik. Kenapa kok masih kekurangan pasokan tenaga listrik, aneh,” gumam saya kepada suami.

Namun saya harus sadar, menggerutu saja tidak akan menyelesaikan masalah. Toh, mulai dari Direksi PLN sampai Presiden SBY tidak tahu kesulitan keluarga kami ketika mati lampu. “Sebagai rakyat biasa, saya harus tetap semangat untuk ikut serta dalam program penghematan energi,” gumam saya untuk menghibur diri.

memanfaatkan minyak goreng bekas atau sering disebut jelantah. Yah, ini ide yang muncul tiba-tiba ketika mati listrik malam hari. Yah, paling tidak saya tidak perlu membeli lilin setiap mati listrik. Selain itu, penggunaan minyak jelantah untuk penerangan juga untuk menghemat tenaga listrik dan ramah lingkungan.

Sebab, dengan lampu saving energy, sama halnya penambahan pemakaian listrik pada saat pengisian. Menggunakan lampu minyak tanah pun sudah langka dan cukup berbahaya. Menggunakan lilin, selain merupakan salah satu hasil tambang kalau matinya tiap hari bisa habis berdus-dus akibatnya arti penghematan itupun akan hambar.

Pakai genser?. Wauh, rumah tangga pakai barang ini mewah banget tuh. “Kalau penerangan pakai genset beberapa saat nyala langsung diprotes tetangga, lah iya brisiknya minta ampun kok. Selain itu, kalau pakai genset sama halnya mengganti listrik dengan bensin, dimana lagi arti penghematan sumber daya alam,” kata saya diskusi dengan suami.

Lalu apa yang kita lakukan agar hemat sumber daya alam tapi rumah tetap terang. Awalnya saya tidak terpikirkan menggunakan minyak jelantah tapi setelah melakukan pemikiran, saya mencoba memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakar lampu. Loh kok minyak jelantah bisa nyala?.

Ingat dengan mainan perahu yang digemari anak-anak. Coba, ingat-ingat bahan bakar apa yang digunakan perahu itu sehingga bisa menjadi energi untuk menggerakan perahu tersebut. Minyak jelantah bukan?. Ingin tahu cara membuatnya agar rumah kita tetap terang meski mati lampu tanpa harus membeli lilin. Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan.

Siapkan satu lilitan kapas dengan panjang kurang lebih 3 cm. Lalu?, sebentar dulu sabar yah. Setelah itu siapkan satu yang kira-kira cukup bisa digunakan untuk membuat lubang pada satu buah tutup botol sirup atau minuman lainnya (yang pasti jangan tutup botol Aqua, pasti meleleh). Buat lubang di tutup botol tersebut melebar agar aliran panas tidak terperangkap.

Tumpahkan minyak jelantah ke dalam botol lalu masukan kapas yang sudah dililit ke lubang botol agar menjadi sumbu api. Terakhi, apungkan tutup botol yang sudah bersumbu di atas minyak yang telah di taruh di gelas. Nyalakan sumbunya dengan korek, nyala deh!. Sederhana bukan?. Sok coba praktekan biar bisa ngirit belanja rumah tangga.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Si Kecil Membuat Analisa


Membaca bukan saja menambah wawasan si kecil tapi ternyata bisa mengendalikan tantrum anak. Demikian diungkapkan seorang penulis buku Ann E Laforge.

OLEH UMMI FADIA

Awalnya saya bingung ketika melihat Fadia (2), anak pertama kami yag tiba-tiba ngambek tanpa sebab. Ternyata itulah yang disebut tantrum. Cara yang efektif untuk meredakan badai rewel balita atau tantrum adalah membaca, terutama bacaan yang menceritakan karakter rasa seperti sedih, senang, terkejut, termasuk ekspresi frustasi sekalipun.

Untuk urusan membaca bagi saya tidak menjadi masalah karena sejak usia delapan bulan, Fadia sudah saya kenalkan dengan kegiatan membaca. Alhamdulilah buku tidak hanya mengembangkan kemampuan berpikirnya tapi juga kemampuan motoriknya seperti membuka lembaran buku yang tipis.

Seiring dengan bertambahnya usia Fadia, sifat “Keakuan” Fadia makin besar yang harus disikapi dengan benar dan tepat sehingga si kecil tidak mengalami kebingungan untuk memaknai sebuah kebenaran.

Salah satu contoh, sebagai keluarga muslim saya membiasakan menutup aurat karena ini adalah salah satu karakter dan kewajiban umat muslim yang bisa membedakan dengan umat lain.

Fadia terbiasa pakai jilbab sejak usia 3 bulan, tapi sejak masa negatifistiknya tumbuh, dia sering menolak memakai jilbab. Di sinilah orangtua “dipaksa” konsisten untuk menerapkan aturan tidak tertulisnya. Apabila kita kalah dengan berontaknya anak maka membingungkan anak itu sendiri.

Salah satu cara yang saya lakukan adalah mengajak membaca buku yang ada kaitannya dengan jilbab. Sampailah saya menemukan buku berjudul “ Aku Cantik Pakai Jilbab”. Dalam buku tersebut hampir disemua halaman menampilkan dialog sang tokoh yang bernama Saliha dan ibunya.

Namun, di beberapa halaman dari buku tersebut gambar ibu yang sedang berdialog dengan Saliha tidak dimunculkan oleh penulis. Inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan Fadia. Tak lama setelah melihat halaman itu munculah pertanyaan dari si kecil. “ Ummi, ibunya mana?” tanya Fadia.

Sampai sekarang saya sendiri tidak mengetahui apa alasan sang penulis tidak menampilkan gambar sang ibu. Tapi analisis si kecil yang ditunjukan dengan melontarkan pertanyaan itu cukup membuat kagum karena stimulus analisisnya sudah mula bergerak .

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Palestina, Aku Bersamamu [2-HABIS]


Usai shalat dhzuhur di Masjid Istiqlal, Jakarta, saya kaget karena tas rangsel yang berisi pakaian, sandal, dan kacamata, tidak ada di tempat dimana saya menaruhnya. Berulangkali mondar-mandir tak juga ketemu hingga membuat saya dan istri cemas. Beruntung, akhirnya tas tersebut ditemukan oleh istri dengan sedikit kerja keras.


OLEH ABU HAZIMAH AYU FADIA


Disambut rintik hujan, Sabtu (20/3) sekira pukul 11.00 WIB, kami bertiga tiba di Masjid Istiqlal, Jakarta. Usai di memarkir kendaraan di salah satu sudut halaman Istiqlal, kami langsung menuju ke ruang dalam masjid untuk shalat sunnah. Bagi saya, kunjungan ke masjid bersejarah ini merupakan yang ketujuh kalinya. Namun demikian, suasana ngresep di masjid Istiqlal tetap terasa dan membuat ibadah lebih nyaman.

Masjid inilah yang menjadi titik awal aksi Palestina, sebelum akhirnya bergerak ke Monumen Nasional (Monas) dilanjutkan longmarch ke Bunderan Hotel Indonesia (HI). Meskipun baru kali pertama turun aksi, Fadia tampak menikmati dengan keceriaan. Rok panjang dengan motif bunga warna merah dan kerudung merah membuat Fadia terlihat lebih dewasa dari usia aslinya, yang baru satu tahun sembilan bulan.

Ruangan Istiqlal yang luas membuat Fadia merasa nyaman untuk berjalan sambil jingkrak-jingkrak. Kacamata yang dipakai menambah terlihat lucu dan cantik, apalagi ketika kacamatan selalu turun karena hidungnya kurang mancung. Bahkan, beberapa menit menjelang dzuhur, Fadia mulai bertingkah dengan bernyanyi sambil menari dengan cara mengitari badan saya, yang sedang duduk di salah satu tiang Istiqlal.

Fadia bukanlah satu-satunya anak-anak yang dibawa aksi Palestina. Penglihatan saya, hampir seluruh peserta aksi yang membawa anak kecuali mahasiswa dan pelajar. Ada satu semangat yang ingin kita tanamkan kepada anak-anak supaya memiliki wawasan global tentang dunia. Palestina merupakan negara muslim yang sejak 42 tahun berada di cengkraman Israel. Bahkan, Israel akan membongkar majsid Al-Aqsa setelah sebelumnya melumat sebagian tanah Palestina.

Kita ingin, anak-anak mengerti bahwa persoalan Palestina bukanlah masalah bangsa Arab saja. Namun, persoalan umat muslim dan ini adalah soal penjajahan dunai yang harus dihapuskan. Jutaan rakyat Palestina meninggal dunia akibat kekejian Israel, mirip kekejaman yang pernah dilakukan Adolf Hitler, di Kamp Konsentrasi, Jerman.

Kita ingin katakana kepada rakyat Palestina bahwa anak-anak Indonesia pun peduli terhadap anak-anak Palestina, yang saat ini kehilangan tempat tinggal, orangtua, sekolah dan masa anak-anak. Isreal telah menghancurkan masa depan anak-anak Palestina.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Palestina, Aku Bersamamu [I]


Pekikan takbir dari ribuan orang menggema dari Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu (20/3) sekira pukul 13.00 WIB. Yah, ribuan orang ini ingin membuktikan kepada dunia, khususnya zionis Isreal yang menjajah negeri muslim Palestina selama 42 tahun.


OLEH ABU HAZIMAH AYU FADIA

Percikan air dari langit tidak menyurutkan semangat dan gelora rakyat Indonesia untuk menyuarakan dukungannya kepada rakyat Palestina. Di tengah deru knalpot dan raungan klakson, para demonstran mulai berjalan dari Masjid Istiqlal menuju ke lapangan Monas.

Di tempat inilah, panggung besar lengkap dengan sound sistem ribuan watt tertata apik. Di atas panggung tampak sejumlah tokoh nasional, diantaranya mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hidayat Nurwahid, anggota DPR RI dari PKS Yoyoh Yusroh dan fungsionaris PDI Perjuangan Sabam Sirait. Di depan dan belakang panggung utama, ribuan orang tak henti-hentinya meneriakan takbir penuh semangat sambil mengibarkan bendera Palestina dan Indonesia, sebagai simbol bahwa Indonesai sebagai negara muslim terbesar di dunia akan selalu bersama-sama mengusir penjajah di atas muka bumi.

Dalam orasinya, Yoyoh Yusroh menceritakan kunjungannya selama beberapa hari di Palestina. Peluh dan perih yang dirasakan rakyat Palestina tidak akan pernah menyurutkan semangat perlawanan untuk mengusir Israel. Dalam pertemuannya dengan pemerintah Palestina, Yoyoh terharu dan bangga dengan rakyat Palestina yang tidak gentar sedikitpun menghadapi Israel. “Mereka juga menyayangkan pemimpinan negara musim yang pengecut,” teriak Yoyoh.

Jarum jam menunjukan angka 14.00 WIB, ribuan demonstran tetap bertahan di Monas dengan gelora semangat membaja sebagai pesan kepada rakyat Palestina bahwa mereka tidak sendiri. Ada ribuan dan jutaan rakyat Indonesia yang tak akan pernah tidur nyenyak sebelum Palestina merdeka. Saya, istri dan Fadia, anak pertama kami selalu bersamamu Palestina. Selamat Berjuang.***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Soal Hutan, Si Kecil Ingin Terlibat


Dunia merasa khawatir dengan tingkat kerusakan hutan di Indonesia yang cukup cepat, meski pemerintah mengklaim laju kerusakan hutan berkurang dari 2,3 juta hektar per tahun pada periode 1997-2000 menjadi 1,08 juta hektar per tahun pada periode 2000-2006 [www.kompas.com]. Namun, melihat fakta di lapangan masih banyak masyarakat yang tidak peduli terhadap kondisi hutan kita. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia

Sebagai warga biasa yang tidak memiliki jabatan apapun saya hanya mampu mengajak si kecil untuk lebih dekat dengan tanaman. Yah, paling tidak dia tahu kalau menanam tanaman itu banyak manfaatnya. Bukan hanya menambah keindahan dan keelokan rumah tapi juga sebagai symbol bahwa kita adalah salah satu dari jutaan manusia yang peduli tentang lingkungan.

Awalnya juga saya tidak terlalu tertarik menulis soal hutan. Namun setelah membaca di beberapa media diantaranya Kompas dan Media Indonesia, ada fakta yang mencengngkan soal kondisi hutan Indonesia. Di Provinsi Banten saja, dimana saya berdomisili, tercatat 120 ribu dari 22,1 hektar hutan di Banten dinyatakan kritis. Bahkan, sekitar 12 ribu hektar dari lahan kritis telah gundul. Kerusakan terparah ada di Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang.

Kalau dilihat dari apa yang saya lakukan bersama si kecil rasanya tidak mencukupi untuk mengimbangi tingkat kerusakan hutan saat ini. Tapi, paling tidak saya bisa menjawab ketika ditanya sang pencipta manakala di akhirat. “Apa yang kamu lakukan terhadap alam selama kamu hidup,” demikian kira-kira pertanyaan sang pencipta kepada saya kelak.

Setiap sore usai pulang kerja saya dan istri mengajak si kecil bersama-sama menyirami beberapa jenis tanaman yang ada di rumah. Dua pohon cemara, tiga pohon pucuk merah adalah beberapa jenis tanaman yang menghiasi rumah mungil kami. “Ayo Mi, yang itu belum disiram,” kata Fadia dengan ekspresi menggemaskan seraya menunjukan jari telunjuknya ke arah cemara.

Gemercik air dari taman mungil kami menambah suasana terasa di alam terbuka. Biasanya kalau sudah semangat menyiram tanaman, Fadia enggan beranjak dan butuh kerja keras untuk merayunya. Kami percaya sekecil apapun keterlibatan Fadia soal lingkungan akan membawa dampak positif saat dewasa nanti. Menurut psikolog, karakter seorang yang dewasa sangat dipengaruhi masa kecilnya. Tatkala, seseorang hidup dalam perkataan yang kasar dari orangtua atau lingkungan terdekatnya semasa kecil maka saat dewasa pun ia akan tumbuh menjadi pribadi yang kasar.

Sebaliknya, jika seseorang hidup dalam masa penuh kasihsayang dan hangat maka orang tersebut akan menjadi manusia penyayang saat dewasa. Oooh jadi kemana-mana nih. Oke deh, kita kembali ke tema awal soal si kecil yang peduli lingkungan. Intinya kita harus menjaga hutan Indonesia agar tetap berseri dan indah dipandang mata. Hutan kita terluas kedua loh Se-Dunia. Dari berita di www.kompas.com, tercatat hutan Indonesia kini terluas kedua di dunia. Dari 126,8 juta hektar hutan, 23,2 juta ha adalah hutan konversi, 32,4 juta ha hutan lindung, 21,6 juta ha hutan produksi terbatas (HPT), 35,6 juta ha hutan produksi, dan 14 juta ha hutan produksi konversi (HPK).***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS