RSS

Ma Acih dan Mandiri


Kemarin, Fadia dikasih buah jeruk sama mbok Jem?. Terus Fadia bilang apa?. Demikian pertanyaan istri kepada Fadia, anak pertama kami yang usianya baru 1,3 tahun. Tanpa disangka, Fadi melontarkan jawaban yang membuat kita haru dan bangga yang tidak terpikirkan oleh kami yaitu Ma Acih..


Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia


Karena ingin lebih yakin, apakah jawaban itu spontan ataukah sudah menjadi kebiasaan. Saya dan istri kembali mengulang pertanyaan tersebut dan selalu dijawab dengan kata ma acih. Menurut cerita Bu De, orang yang ngemong Fadia ketika kami berdua kerja, si mbok yang mendengar jawaban Fadia pun terharu dan memeluknya dengan rasa haru dan bangga. Subhanallah, terima kasih ya Allah atas karuniaMu yang telah menitipkan Fadia kepada kami. Semoga kami bisa menjadi hambaMU yang amanah, amin (doaku sambil menulis kisah mengharukan ini).

Selain sudah mampu mengucapkan ma acih, Fadia juga memiliki kemandirian yang luar biasa. Aktivitas keseharian seperti makan, minum, membuang sampah, menaruh pakaian ganti, mandi, menyapu dan bermain laptop, ingin dilakukan sendiri. Padahal, usianya baru menginjak 1,3 tahun. Atas sikap ini, kami sering merasa khawatir karena keamanannya. Sebelum bisa berjalan yaitu saat usianya 9 bulanan, Fadia pun ingin berlatih berjalan tanpa ingin dibantu. Kami pun hanya mensiasati dengan membiarkan Fadia, mendorong baby stroller yang tidak dinaikinya lagi.

Kami berdua menyadari jika sikap Fadia seperti itu merupakan sesuatu hal yang bagus untuk masa depan anak. Seperti yang dikatakan oleh Prof. Reni Akbar Hawadi, Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia (UI), Jakarta, bahwa kemandirian anak merupakan titik tolak untuk menjadikan anak Indonesia generasi yang unggul. Dalam penjelasannya yang ditulis di majalah Nakita, edisi pertengahan Juli 2009, Reni menjelaskan panjang lebar soal tema besar pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 23 Juli 2009.

Menurut Reni, anak Indonesia yang unggul baru berkisar antara 1-3 % atau sekitar 600 ribuan anak dari total anak Indonesia yang berjumlah sekitar 20 jutaan. Fakta yang diungkapkan oleh Reni ini mesti menjadi perenungan bagi para orangtua. Jika data yang disebutkan oleh Reni ini benar maka wajar jika bangsa Indonesia belum menjadi bangsa yang maju, meskipun memiliki kekayaan alam yang melimpah.

Berbeda dengan tetangga kita seperti Malaysia dan Singapura yang sudah menyodok kita. Padahal, kekayaan alam mereka tipis dan memprihatinkan ( eh jadi kemana-mana nih…ga papa lah sekalian tambah wawasan). Kembali kecerita Fadia, saya sendiri sudah beberapa kali dikejutkan oleh perkembangan Fadia. Suatu hari, usai Rata Penuhrekreasi di SDIT Nur El-Qolam, Minggu (19/7/2009) sekitar pukul 18.30 WIB, saya mengaktifkan laptop mungil saya dan tanpa disangka, Fadia membawa flasdisk dan berupaya memasukan barang tersebut ke port yang memang untuk flasdisk.

Yang membuat saya haru dan kagum, Fadia seperti sudah mengerti posisi yang tepat untuk falsdisk padahal usianya baru 1,3 tahun. Melihat perkembangan fisik, mental dan kecerdasannya yang unik, mengharukan dan mengaggumkan tersebut. Kami berdua sepakat untuk menyekolahkan Fadia di kelas holistik di sekolah yang berada di lingkungan perumahan. Tak hanya itu, kami juga mendaftarkan Fadia ke kidslab dengan harapan akan lebih terarah, karena dibimbing oleh guru secara sistematis. Sayang, usia Fadia belum mencukup karena anak yang diterima minimal usia 3 tahun sedangkan Fadia baru 1,3 tahun. ****

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tenang, Beban Kita Sudah Diukur


Tekanan hidup yang begitu hebat terkadang menggoyahkan naluri dan akal kita sebagai seorang hamba Allah SWT. Tak heran, sering kita temukan seseorang yang lunglai dan pesimis dalam menghadapi pergolakan hidup ini. Sebagai manusia biasa saya sendiri sempat mengalami hal demikian, tapi kondisi ini cepat-cepat dibenahi dan melakukan proses penyadaran diri. Alhamdulillah, kini diri ini sadar akan hakikat seorang hamba yang segalanya dibawah kuasa Allah SWT.

Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia


Sesungguhnya Allah SWT yang menciptakan diri kita sudah paham betul, karakter, sifat dan kesanggupan kita dalam memikul beban. Jika kita paham akan hal ini maka kita tidak mungkin terjerat oleh rasa putus asa, karena pasti Allah tidak akan memberikan beban kepada kita melebih batas kemampuan yang kita miliki. Allah tidak akan memberikan beban kepada seorang hamba melebihi batas kemampunnya, demikian janji Allah dalam sebuah surat yang ia sampaikan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw.

Logika saya sendiri berjalan ketika membaca surat ini. Dalam benak saya, Allah tidak akan mencabut atau ingkar janji terhadap apa-apa yang pernah disampaikan kepada Muhammad. Kesimpulannya adalah ujian dan beban hidup sekeras apapun tidak akan mencelakakan kita, selama kita di dalam garis yang Allah tentukan.

Persoalan yang sering muncul kenapa seseorang putus asa lebih dikarenakan ada unsur ketidakyakinan di dalam hati seseorang tersebut, kepada janji Allah yang saya tulis di atas. Nah, kenapa tidak yakin dengan janji Allah, ini yang mesti kita telusuri oleh diri kita sendiri dengan mendengarkan hati nurani. Cobalah introspeksi diri di tengah malam sembari melakukan pendekatan terhadap Allah SWT dengan shalat, dzikir dan berdoa.

Jangan sekali-kali membohongi diri sendiri ketika introspeksi, jika ini semua itu bisa dilakukan maka ada titik terang. Namun, jangan berhenti di sini karena proses perjalanan masih jauh. Ada seabrek wanita penggoda di luar sana, ada setumpuk harta yang menanti di luar sana dan ada setinggi jabatan dan popularitas di luar sana. Semuanya itu menjadi tantangan sekaligus godaan kita, apakah mampu mengendalikan semua itu atau justur tergelincir dan terjerembab dan akan kembali menyeret diri ini menjadi mahluk yang tidak yakin dengan janji Allah SWT.
(Kota Serang, 7 Juni 2009, pukul 11.00 WIB.)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hidup Adalah Pilihan


Setiap detik, hari, bulan dan tahun, kita selalu dihadapkan pada suatu pilihan. Yah, pilihan yang terkadang membingungkan karena sebagai mahluk yang memiliki nafsu. Padahal, salah memilih berarti wajah dan nasib kita akan berubah.

Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia

Sabtu, 20 Juni 2009 sekitar pukul 13.00 WIB, secara tidak sengaja saya membaca sebuah buku yang sudah dua mingguan diacuhkan. Syukurnya, masih ada lipatan buku sebagai pertanda batas akhir halaman yang saya baca beberapa waktu lalu.

Lembar demi lembar buku berjudul Room to Read yang ditulis oleh mantan eksekutif muda di Microsoft, Amerika Serikat, John Wood, saya baca dan telaah secara perlahan. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam 16 bahasa dan salah satunya adalah bahasa Indonesia, ini cukup menarik dan insipiratif terutama bagi sesorang yang memiliki rasa kemanusiaan soal nasib anak-anak di pelosok daerah yang memiliki keterbatasan akses informasi.

Di dalam buku setebal 385 halaman ini, Jhon menceritakan pergolakan dan proses penjelamaan dirinya dari salah satu pimpinan di Microsoft menjadi aktivis sosial, setelah berhenti di perusahaan milik Bilgates tersebut. Jhon yang berhasil meraih Academy for Educational Development “Breakthrough Ideas in Education” Award 2007, ini nekat meninggalkan karirnya di Microsoft dan aktif pada kegiatan non profit yang bergerak di bidang pendidikan dan berhasil membangun 7.000 perpustakaan di pelosok dunia (lebih lengkapnya baca bukunya yah).

Setelah membaca buku ini selama satu jam lebih, saya langsung mengambil laptop yang tersimpan di dalam lemari dan langsung memencet keyboard hitam mungil di laptop tersebut. Tampak istri dan Fadia anak pertama saya, masih lelap dengan tidur siangnya.

Membaca buku ini saya seperti diingatkan olah Jhon akan sebuah kata kunci yang berbunyi hidup adalah pilihan. Kata ini terlihat sederhana tapi berdampak luar biasa terhadap kehidupan yang kita jalani.

Pilihan-pilihan selalu ada di depan mata setiap detik dan hari. Memilih jodoh, pekerjaan, tempat tinggal termasuk aktivitas keseharian merupakan pilihan yang selalu ada dihadapkan seseorang, yang terkadang membingungkan. Pilihan yang saya maksud bukanlah pilihan antara keburukan dengan kebaikan, bukanlah syurga dengan neraka karena kalau ini sudah jelas dan tidak perlu memilih termasuk efeknya terhadap diri kita juga sudah jelas.

Yang ingin saya katakan di sini adalah pilihan dimana kita dihadapkan pada dua kebaikan atau lebih, bukan pilihan antara kebaikan dengan keburukan. Apa yang dialami oleh Jhon merupakan salah satu contoh seseorang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama baik yaitu apakah akan tetap bekerja di perusahaan raksasa dengan segala fasilitas yang diterima, atau menjadi aktifis sosial dengan mendirikan perpustakaan di pelosok dunia dengan konsekuensi harus rela meninggalkan fasilitas dari perusahaan.

Soal pilihan, ustad Ulil dalam sebuah kajian di salah satu masjid di Kota Serang, Provinsi Banten, mengungkapkan keherananya kepada sebagian orang ketika dihadapkan pada pilihan baik dan buruk. Pria yang pernah mengenyam perkulihan di negara Arab ini, menceritakan sahabiah Nabi Muhammad Saw, ketika diminta untuk memilih apakah bisa bersabar menerima penyakit ayan tapi dijamin masuk syurga atau minta nabi mendoakan agar penyakitnya sembuh, tapi belum ada jaminan masuk surga karena kemungkinan akan terjemus ke dalam orang-orang yang tidak bersyukur.

Sahabiah tadi akhirnya memilih sabar demi masuk syurga daripada memilih minta didoakan sembuh, tapi belum ada jaminan masuk syurga dengan alasan yang nabi sebutkan di atas. “Wong dijamin masuk syurga kok ragu, buat apa menimbang-nimbang atau shalat istikharah, kan pilihannya masuk syurga,” kata ustad Ulil.

Begitulah manusia, terkadang salah menempatkan sikap dan keputusan. Sesuatu yang sudah baik masih ditimbang tapi hal yang buruk dilakukan tanpa pertimbangan. Apa yang dilakukan oleh Jhon dan cerita ustad Ulil bisa menjadi bahan perenungan dalam menjalani bahtera kehidupan supaya hidup lebih baik.

Jangan dibingungkan oleh pilihan buruk dengan kebaikan, tapi jangan ragu pula untuk memilih sesuatu yang lebih baik meski secara materi sedikit. ****

Kota Serang-Banten, Sabtu, 20 Juni 2009


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Persiapan Persalinan Gaya Pemula


Sebagai pasangan muda, saya dan istri terus terang agak was-was bercampur gembira ketika menghadapi masa persalinan. Maklum, kami sering menerima cerita-cerita persalinan yang kurang menggembirakan, seperti proses kelahiran yang harus dioperasi atau keguguran.

Oleh Abu Fadia

Karena ingin memberikan yang terbaik untuk anak pertama kami, berbagai upaya pun dilakuam mulai dari memeriksa kehamilan secara rutin sampai mengasah ilmu melalui berbagai buku. Beruntung, istri nyambung dengan pola membina rumah tangga ala aktivis yaitu belajar dan membaca.

Semangat ini pula yang kemudian memberi insipirasi bagi kami membeli buku karangan Imam Musbikin, yang berjudul Persiapan menghadapi persalinan. Buku setebal 481 halaman ini pun dibedah oleh istri. Mulai dari pola makan ibu hamil hingga senam kehamilan, dapatkan istri dari buku ini. Saya sendiri hanya menjadi pendengar yang baik sembari sekali-kali memotivasinya.

Salah satunya adalah bagian yang membahas soal dukungan suami terhadap istri ketika proses persalinan. Wah, dari sini terbayangkan darah berceceran di depan mata. Padahal, saya termasuk orang yang tidak kuat melihat darah.Dalam bab ini, Imam mebeberkan betapa bahagianya sang istri ketika mendapatkan dukungan positif dari suami terutama pada usia kandungan 9 bulan. Di usia inilah emosi dan perasaan istri dan kita sebagai suami akan berubah drastis.

Setiap malam kami mendiskusikan persiapan apa yang kira-kira belum dilakukan. Nama untuk anak, popok, kain hingga obat-obatan ringan pun tak ketinggalan menjadi pembahasan kami. Sekali lagi, semuanya itu kita dapatkan ari proses belajar yang didapatkan dari membaca. Tak cukup hal-hal kebutuhan pokok, nomor handpone bidan yang menjadi langganan dan nomor telepon taksi pun kita tempatkan pada tempat yang khusus, dengan tujuan agar mudah dicari. Pokoknya kita membayangkan seperti mau menghadapi peperangan di medan yang baru menjadi bayang-bayang, sehingga tampak samara-samar.

Kegiatan istri tampak lebih detil lagi, ia menyiapkan barang-barang yang diperlukan pada proses persalinan. Empat kain, sarung, popok, dan obat-obatan ringan dimasukan ke dalam tas khusus. Persiapan teknis yang telah kami siapkan membuat kami merasa siap untuk menghadapi persalinan, dan Alhamdulillah persalinan berjalan lancar dan aman. Anak pertama yang kemudian kami beri nama Hazimah Ayu Fadia pun lahir, tepatnya Minggu 20 April 2008. **

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ilmuwan Penulis


Menulis bagi sebagian orang merupakan kegiatan yang mejengkelkan sekaligus menyenangkan. Yah, jengkel bagi orang yang ingin menuliskan sesuatu dalam otaknya tapi tidak bisa menulisnya. Bahagia bagi orang-orang yang telah mampu mengeksplorasi ide-ide segarnya.

Oleh Abu Fadia

Sebetulnya semua orang bisa menulis, hanya mungkin tulisannya tidak pernah dimuat di media.Fakta inilah yang sering membuat orang jenuh dan bosan menulis. Padahal, banyak sumber yang ada di sekeliling kita dan bisa kita tuliskan menjadi buku.

Ide tulisan bisa datang darimana pun, seperti anak, istri, mertua, teman sekantor bahkan tukang becak sekalipun. Sepengatuhan saya banyak penulis yang mampu mengekspolrasi masalah kehidupan pribadi dan keluarganya.

Sebut saja, Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang menulis buku berjudul The Audcity of Hope; Thoughts on Reclaiming the American Dream. Dalam salah bab di buku ini, Obama menuliskan kisah ketika Malia, anak pertamanya lahir. Di dalam bab itu, Obama merupakan sosok ayah yang luar biasa. Ia mau mengganti popok dan memanaskan ASI untuk Malia. Kisah ini tidak mungkin orang lain tahu jika Obama tidak menulisnya.

Apalagi kita, yang tidak memiliki hubungan saudara ikatan darah dengan Obama. Kalau tidak percaya, silahkan baca bukunya yang telah diterjamahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ruslani dan Lulu Rahman. Judul terjemahanya Menerjang Harapan dari Jakarta Menuju Gedung Putih, tepatnya di halaman 125.

Masih belum puas dengan Obama, saya tunjukan lagi buktinya yang ada di Indonesia yaitu Asma Nadia. Beberapa bukunya mengangkat pengalaman pribadinya sebagai ibu dari anak-anaknya. Sebut saja bukunya yang berjudul Catatan Hati Bunda, yang dicetak Juni 2008 lalu. Dalam bukunya, adik pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) Helvy Tiana Rosa ini, menulis kisah keluarganya mulai dari kelucuan Caca, anak pertamanya hingga cerita menegangkan ketika Adam, anak keduanya terpaksa harus dirawat di rumah sakit karena kejang-kejang.

Ketika itu, Adam sudah divonis akan mengalami gangguan otak. Namun, sang khalik memberikan mukjizat hingga akhirnya Adam menjadi sosok anak yang istimewa bagi keluarga Asma. Masih banyak buku-buku yang beredar di pasaran dan bisa menjadi insiprasi kita, seperti Nikmatnya Pacaran Setelah Menikah karangan Salim A.Fillah, 168 Jam dalam Sandera karangan Meutya Hafid dan lainnya. Nah, atas inspirasi merekalah saya menulis untuk Fadia, anak pertama saya yang lahir 20 April 2008. Ilmuwan penulis, demikian ide yang melintasi dalam benak saya ketika membaca buku-buku yang menceritakan dinamika keluarganya. Judul ini merupakan hadiah mimpi untuk Fadia, yang ketika tulisan ini dibuat baru berumur 7 bulan.

Impian Fadia menjadi ilmuwan karena memiliki aliran darah Uminya, yang lulusan MIPA Jurusan Fisika di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah. Sementara, darah penulisnya mengalir dari saya yang kebetulan menjadi wartawan di Radar Banten Jawa Pos Group. Dalam bayangan saya, darah daging Fadia telah mengalir dua potensi yang kami miliki. Kini, tugas saya dan istri untuk memunculkan potensi tersebut. Soal nanti Fadia memilih jalan hidupnya sendiri itu urusan nanti, setelah dewan kelak. Ilmuwan penulis, itulah impian saya yang masih perlu mendapat persetujuan dari Fadia. ***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dokter Ramona, Herlinda, Inong


Dokter Ramona, Herlinda atau Inong

Memiliki anak perempuan memang keinginan saya sebelum menikah. Maklum, dalam persepsi saya yang didasarkan pada pengalaman realitas sosial, biasanya anak perempuan lebih sensitif terhadap persoalan keluarga. Selain itu, anak perempuan umumnya memiliki rasa sayang yang lebih daripada anak laki-laki.
Entahlah, apakah persepsi saya ini salah atau benar yang pasti rasa bangga dan bahagia menyelinap dan menjadi warna tersendiri dalam hidup saya. Sejak Fadia hadir pada 20 April 2008 lalu, kami berdua dan orangtua merasa hidup ini menjadi lebih hidup.
Di usianya yang memasuki 8 bulan tepatnya, Sabtu, 27 Desember 2008, tiba-tiba kami dirundung kesedihan dan panik. Fadia, anak pertama saya yang menggemaskan karena pipinya tembem (cabi-cabi), bulat dan lincah. Tiba-tiba menjadi lesu tak berdaya seperti tanaman putri malu yang selalu merunduk jika disentuh oleh tangan-tangan usil.
Hari itu, angin bertiup lumayan kencang, suara bletak-bletok terdengar dari atap tempat singgah kami. Sengaja saya tidak menyebut rumah karena statusnya masih ngontrak. Nyi Lebrak, demikian Fadia biasa dijuluki oleh neneknya di Kampung. Kini, sedang kena panas, suhu naik dan mendadak rewel.

Beberapa kali saya mengajak istri agar dibawa ke dokter spesialis, ia menolak dengan alasan Fadia hanya kena panas biasa. Sebagai orang terdekat Fadia, saya percaya dengan petuah sang istri. Apalagi, Fadia masih sering menebar senyum kepada setiap orang yang mengajaknya meski tidak seenergik ketika sehat.

Waktu terus berlari seperti mengajak Fadia agar keluar keringat dan cepat sembuh. Matahari pun mulai bersembunyi karena kelelahan mengitari bumi berjam-jam. Malam hari, panas Fadia mulai turun tapi tangisnya tak berhenti, seperti merasakan sesuatu yang sakit di badannya.

Menurut istri, panas Fadia sudah turun tapi belum mau makan. Dalam pikir kami mungkin Fadia masih merasakan pahit di lidah, seperti halnya orang dewasa yang sedang sakit. Roti pun terasa buah mengkudu, terasa pahit dan tidak mengenakan bagi lidah dan perut.

Melihat tangisan pilu dan sendu itu, saya kembali mengajak istri untuk membawa Fadia ke dokter spesialis anak, di salah satu rumah sakit swasta di Kota Serang. Sabtu, 27 Desember 2008, sekitar pukul 08.00 WIB, akhirnya istri setuju dan membawa Fadia ke dokter spesialis yang dinas di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Budi Asih.

Di rumah sakit ini pula, Fadia pernah diperiksa akibat kulitnya memerah pada usia 6 bulan. dr. Ramona, itulah nama seorang dokter spesialis anak yang memberikan beberapa nasehat kesehatan kepada kami berdua. Terima kasih bu dokter atas anjuranmu sehingga kulit Fadia yang kena memerah kini sembuh.

Bagi saya, dr Ramona memiliki kelebihan dibanding dokter lainnya. Diantaranya, Ramona mau meluangkan waktu untuk ngobrol-ngobrol soal anak, mulai dari jenis makanan sehat, obat-obatan hingga pakaian. Dari dokter ini pula, istri saya semakin yakin kalau makanan yang sehat bagi Batita adalah ASI dan makanan alami lainnya.

Memang, sejak Fadia lahir belum pernah diberi makanan seperti biscukit ataupun susu formula. “Fadia itu anak manusia bukan anak sapi, jadi minumnya ASI, bukan susu sapi,” kata istri ketika disodori sejumlah makanan dan susu formula dari rekan-rekannya.

Usai ke dokter Ramona, kami berdua sedikit lega meskipun masih menyisakan kekhawatiran, karena ternyata Fadia terkena amandel. Kata Ramona, amandelnya belum bisa diambil karena usia Fadia masih terlalu kecil dan baru bisa diambil setelah usianya sudah mencukupi yaitu sekitar 7 tahun.

Tapi, tidak apa-apa kok, yang penting Fadia harus dijaga betul kesehatan makanan, minuman, pakaian dan lingkungannya. Hati-hati kalau di bawa ke rumah tetangga atau keluar rumah, karena sepertinya Fadia terkena virusnya di luar rumah yang menular melalui angin,” kata Ramona, setelah mendengar penjelasan dari istri bahwa Fadia kesehaaan Fadia relatif terjaga.

Jujur saja, kalau soal makanan, pakaian dan rumah, istri paling sensitif. Tak heran, pakaian Fadia selalu bersih, makanan pun steril. Jangankan bahan makan atau minuman Fadia, botol minuman atau dot Fadia saja, direbus air panas dahulu sebelum dipakai.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah, Subhanallah maha suci Allah. Resep tiga botol obat yang terdiri dari antibiotik, vitamain dan anti rahang dari dokter Ramona, ternyata manjur. Fadia pun sembuh dan kembali ceria, jingkrak-jingkrak, dan menebar senyuman dari mulutnya yang belum bergigi, tawa gemasnya kembali menggoda setiap orang yang melihat untuk mencubitnya. Lucu dan menggemaskan pun kembali menghiasi persinggahan kami.

Dari pengalaman mengajak Fadia ke dokter spesialis, saya pun sering ngobrol dengan Fadia. Mau jadi dr Ramona, yang ahli anak atau dr Herlinda, dokter spesialis kandungan di rumah sakit yang sama dimana dr Ramona kerja. Namun, tawaran profesi rupanya datang juga dari istri. “Atau dr Inong, ahli kulit yang mengisi rubrik di majalah Ummi,” kata istri.

Apapun nanti yang engkau pilih, Abi dan Ummi setuju, yang terpenting tidak meninggalkan tauhid dan tetap memiliki semangat untuk membantu sesama mahluk Allah. Apakah dr Ramona, dr Herlinda atau dr Inong, Abi dan Ummi akan dukung sepenuhnya. Terima kasih para dokter spesialis, kalian telah memberikan insipirasi kami berdua untuk menanamkan cita-cita pada anak pertama saya. ***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kado Lebaran untuk Istri

Lebaran tahun ini adalah momen istemewa bagi saya. Selain mencapai kemenangan di idul fitri yang jatuh hari Rabu (1/10) ini, saya bisa memberikan kado lebaran kepada istri berupa cincin.

Sejak pernikahan dua tahun lalu, saya belum mampu membelikan sesuatu yang berharga seperti emas. Pernikahanya saja saya terpaksa meminjam kalung dengan berat 11 gram milik salah seorang teman saya (terima kasih ya pengorbananya tidak akan pernah aku lupakan).

Hingga satu tahun menikah saya hanya mampu membelikan pakaian tiga lembar, lemari es, dan kasur, selebihnya saya belum mampu. Hingga suatu ketika istri tiba-tiba minta dibelikan cincin. Keinginan ini pun hanya untuk menjaga izzah saya sebagai suami di depan keluarganya. Meskipun sebetulnya mereka tidak mengetahui peristiwa yang sesungguhnya. Permintaan yang terkesan tidak serius ini membuat saya jadi merasa semangat. Apalagi, istri sering memohon untuk menunda pembelian cincin (terima kasih my love).

Selain itu, istri sering melihat wanita lain yang sudah menikah memakai cincin. Permintaan ini pun sempat tertunda beberapa bulan karena kondisi keuangan saya yang memang terbatas. Maklum, sebagai jurnalis saya minim harta meskipun imaje yang ada di tengah masyarakat, seorang wartawan cepat kaya.

Sabar yang Mi, Insya Allah kalau ada rezeki saya belikan cincin supaya istri saya pun bangga dan pede ketika kumpul dengan wanita lain karena sudah ada cincinnya sebagai bukti dirinya telah memiliki suami. Atas izin Allah akhirnya, saya mampu membelikan cincin 3,5 gram dengan emas 24 karat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS