RSS

Si Kecil Kemah di Rumah Sakit

Bintang yang semula menyemburkan cahaya dengan indah, mendadak malu dan bersembunyi di balik gumpalan awan yang juga terasa menghitam. Riang dan tawa seketika berubah menjadi tangisan yang meronta dan nelangsa karena tak tahan merasa sakit. Itulah suasana saat kami mendengar kepastian hasil tes darah bahwa si kecil terkena positif DBD.

Di akhir pekan pada Minggu terakhir di akhir tahun, tepatnya Sabtu, 25 Desember 2010 sekira pukul 18.30 WIB atau 30 menit setelah adzan magrhib. Saya dan istri setengah kaget dan setengah siap menerima anjuran yang bersifat desakan agar Hazimah Ayu Fadia, anak pertama kami di opname. “Trombositnya cuma 120 bu, jadi saran saya dirawat inap. Ini sudah positif DBD, tapi itu sih terserah ibu dan bapak sebagai orangtua,” kata dokter setelah menerima hasil laboratorium tes darah Fadia dengan mimik serius.

Kedipan bintang di langit menjadi redup, bulan pun enggan tersenyum seolah turut merasakan suasana batin kami. “Ooh, positif yang dok?. tanyaku untuk memastikan barangkali dokter salah baca atau ngantuk karena jaga di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Ibu dan Anak Budi Asih, Kota Serang, Provinsi Banten. Namany dokter kan bisa jadi salah baca, kan dokter juga manusia.Tak pusat dengan pertanyaan saya, istri saya kembali menanyakan alasan kenapa harus dirawat inap dan kenapa positif DBD. “Trombositnya berapa dok?” tanya istri kepada sang dokter.

Pertanyaan istri sebetulnya bukan meragukan kemampuan diagnose sang dokter terhadap hasil tes, tapi hanya untuk memastikan apakah betul kena DBD. “Iya Bu, ini trombositnya rendah cuma 120 padahal normalnya minimal 150,” jawab sang dokter sambil melempar senyum. Jawaban kali kedua dokter inilah yang meyakinkan kami berdua sehingga memutuskan untuk merawat Fadia.

Sekira pukul 20.00 WIB, tangan Fadia mulai dilengkapi dengan tusukan jarum suntik, selang dan botol yang berisi cairan. Tangisan dengan diiringi gerakan fisik memberontak untuk diopname, si kecil di bawa ke salah satu ruang perawatan. Inilah waktu kali pertama saya, istri dan si kecil kemah di rumah sakit. Tak tega melihat tangan si kecil ditusuk jarum dan mengeluarkan darah segar.

Rintihan dan tangisan histeris pun mulai terdengar. Bahka, saya terpaksa harus memegang kuat-kuat tangan si kecil ketika hendak diambil darahnya untuk kali keduanya. “Maaf ya nak, ini supaya Fadia cepat sembuh dan bisa sekolah jauh,” bujuk saya kepada si kecil dengan penuh iba.

Setelah semua peralatan infus terpasang, si kecil pun dibawa ke salah satu ruang yang telah kami pilih. Si kecil menempati ruang VIP dengan nama ruangannya Merak 6, yang berada di ujung gang lantai 2 rumah sakit ini. Mulailah malam yang bertepatan dengan Hari Natal 2010 itu kami bertiga kemping di rumah sakit. Oh, maaf sebetulnya sih berempat karena istri sedang mengandung lima bulan anak kedua kami.

Sambil kemping saya aktif menuliskan status di facebook minta doa kawan-kawan di facebook karena kekuatan doan begitu luar biasa. Penulisan facebook ini saya lakukan setelah meminta izin tidak masuk kerja via pesan singkat ke rekan kerja. Si kecil terkulai dengan infuse, mohon doa untuk kesembuhannya, itulah salah satu isi status saya ketika kemping di rumah sakit. Tanggapan dari kawan pun mulai bermunculan hingga mencapai 10 tanggapan, mayoritas berisi doa dan menanyakan sakit anak saya.

Terima kasih doanya. Positif kena DBD, jawab saya dalam status facebook. Oh ya ada juga yang menganjurkan untuk minum jus jambu merah. Apapun isi status ini saya berterimakasih karena dengan dibantu doa para jamaah facebook, si kecil berangsur-angsur mulai membaik. Namanya kemping, yah bawaanya air panas, selimut, jaket dan makanan ringat serta minuman.

Di dalam ruangan kemping hanya ada satu tempat tidur yang pastinya untuk si kecil sama umminya. Di samping tempat tidur terdapat lemari es satu pintu merk Sanyo, televisi 14 inch merk Samsung dan sofa hijau muda yang saya tidak tahu merk apa.

Kami berdua bersyukur karena ndilalah istri diberi petunjuk oleh Allah SWT untuk melihat artikel tentang DBD, yang lama tidak dibaca dan tersimpand I meja rias. Jika tidak ada petunjuk Allah SWT maka saya tidak tahu nasib Fadia menghadapi penyakit unik itu. “Terima kasih ya Allah atas kasih sayangMu,” gumam saya dalam batin. Dalam artikel itu dikatakan bahwa gejala DBD seperti pelana kuda, pada tiga hari pertama panas badan cukup luar biasa. Nah, pada hari ke empat panas menurun dan anak bisa becanda, makan dan beraktivitas seperti sudah sehat makanya banyak orangtua santai padahal kesembuhannya hanya kamuflase.

Kondisi seperti sudah sehat itulah sebetulnya masa kritis karena virus mulai menggeroti salah satu bagian dalam tubuh kita melalui darah. Salah satu caranya untuk memastikan apakah itu sembuh betulan atau bohongan maka di tes darah di rumah sakit, sehingga bisa diketahui apakah murni sembuh atau ada penyakitnya. Jadi saran saya bagi Anda yang memiliki anak dan mengaalami panas, mesti waspada pada hari ke-4 dan jangan sampai terlambat untuk melakukan tes darah. |Abi Ayu Fadia|

26 Desember 2010, RSIA Budi Asih, Kota Serang

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tjoet Njak Dien, RA Kartini dan Ayu Fadia [1]

“Aku mau sekolah yang jauh. Di sana pakai mobil. Aku kan mau jadi dokter.”

[Ayu Fadia, saat usianya 2 tahun 8 bulan].

Oleh Abi Ayu Fadia

Tepat peringatan Hari Ibu, 22 Desember 2010 yang jatuh pada hari Rabu sekira pukul 20.00 WIB. Rumah mungil kami yang biasanya ramai oleh celotehan Fadia mendadak hening. Boneka si Lebah pun terkulai di keranjang karena sang pemilik sedang layu. Wajahnya pucat dan selalu terbangun dari tidurnya diringi tangisan menahan sesuatu yang tidak mengenakan.

Istri yang sedang hamil lima bulan langsung merangkul tubuh mungil Fadia untuk kemudian dipeluk. Saya sendiri sibuk mengatur suhu AC di kamar dan mengurus air hangat kuku dan selembar handuk kecil. Sementara, keponakan yang saat itu sedang menunggu warung saya perintahkan membeli thermometer digital di apotek. Sebetulnya, alat ini sudah tersedia tapi rusak setelah diremas-remas tangan kreatif Fadia ketika sehat.

Itulah kesibukan seisi rumah ketika Ayu Fadia terkena panas hingga nyaris mencapai 40 derajat celcius tepatnya 39,4 derajat celcius. Suhu badan Fadia kami pantau setiap satu jam lalu kami catat sebagai medical record sebagaimana yang dianjurkan oleh para tenaga kesehatan. Catatan ini penting untuk mengetahui sejauhmana perkembangan suhu badan sehingga bisa cepat diambil tindakan apabila kondisi mengharuskan di bawa ke dokter.

Kata orang kedokteran panas itu bukan penyakit tapi bentuk perlawanan tubuh terhadap benda asing yang masuk, seperti virus atau bakteri. Nah, karena bukan penyakait jadi tidak perlu panic ketika mendapatkan anak kita panas. Yang terpenting panasnya dikontrol supaya bisa diambil tindakan. Apabila panasnya diikuti kejang-kejang,muntah maka secepatnya dibawa ke rumah sakit.

Hal lain yang perlu segera dibawa ke rumah sakit adalah saat suhu badansi kecil naik turunya radikal. Misal dari 39 derajat celcius langsung turun 35 derajat, nah itu perlu diwaspadai dan lebih baik segera larikan ke rumah sakit. Sebetulnya ada hal lain yang membicarkan tentang panas si kecil salah satunya adalah memindahkan tempat tidur si kecil ke tempat yang lebih luas dan sirkulasi udaranya bagus.

Alhamdulillah, sekira pukul 23.00 WIB panas Fadia mulai turun hingga pukul 24.00 WIB panasnya turun menjadi 38,5 derajat celcius yang semula 39,5 derajat celius. Lah, ini judul ama isi kok ga nyambung. He..he.. tenang aja, baca saja sampai tuntas nanti juga nyambung kok. Kenapa saya sandingkan Ayu Fadia dengan nama dua tokoh wanita terkenal tentu ada udang di balik mirong, eh di balik batu maksudnya.

Soo pasti ada dong. Masa menyandingkan nama anak dengan seorang tokoh tidak ada maksud?, wong kita memberikan nama untuk anak-anak kita juga ada filosofinya iya kan?. Jadi begini, mumpung Hari Ibu saya menulis sosok wanita yang menjadi pahlawan sang pencerah di kalangan kaum wanita. Apalagi Fadia lahir sehari sebelum peringatan Hari Kartini yaitu 20 April 2008.

Lalu hubungannya apa dengan RA Kartini dan Tjoet Nya Dien. Memang secara garis keturunan darah tidak ada ketemu karena Kartini keturunan bangsawanan Jawa, Tjoet Nya dien keturunan Sultan di Aceh. Sedangkan Ayu Fadia adalah keturunan seorang wartawan yang menikahi sarjana Fisika UNS Solo, Jawa Tengah.

Tapi bukan urusan darah yang ingin saya petik pelajaran dari dua wanita tersebut, tapi nilai-nilai pencerahan yang telah mereka lakukan sehingga menggelorakan semangat kaun wanita. Mereka berdua bisa menjadi inspirasi sebagaimana kebebasan wanita Belanda untuk mengekspresikan bakatnya telah menginspirasi Kartini, sehingga tersadarkan bahwa peran wanita bukan hanya di dapur, sumur dan kasur.

Karena terinspirasi inilah Kartini berani menulis surat pada Mr.J.H Abendanon, salah satu temannya di Belanda. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri kincir angina tersebut. Sayang Kartini tidak sempat memanfaatkan beasiswa tersebut karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat.

Wah makin seru saja nih ceritanya. Sok pasti kan sudah saya jelaskan pada pertengahan tulisan ini bahwa nanti pasti ada kaitannya antara judul dengan isinya. Supaya lebih seriu kita rehat dulu sambil menyeruput teh poci khas Gardoe Welitan (GW). Tunggu tulisan selanjutnya pada bagian kedua masih di web yang sama yaitu www.familycare20.blogspot.com. Selamat Membaca!

Kota Serang, 22 Desember 2010

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mogok Sekolah, Rajin Shalat

“Kenapa Fadia ga berangkat sekolah lagi?” tanya saya kepada Fadia di pagi hari. “Bosan,” jawabnya dengan tegas tanpa ragu. Fadia adalah anak pertama kami yang ketika tulisan ini dibuat berumur 2,6 tahun..

Waow, anak usia 2,6 tahun sudah bisa dan berani menyatakan sikapnya sendiri tanpa ragu. “Loh kok bosan, katanya mau jadi dokter kandungan?” tanyaku dengan mengingatkan memori Fadia tentang cita-citanya ingin menjadi dokter kandungan yang pernah dia sampaikan saat baru berumur 1,5 tahun. “Ga mau,” katanya dengan nada tinggi seolah ingin menegaskan kepada saya bahwa ia tidak mau diganggu gugat soal urusan sekolahnya.

Maaf, bukan bermaksud ngalem anak sendiri, Fadia memang memiliki keunikan tersendiri. Dia sudah bisa mulai berjalan sejak usia satu tahun, bicaranya tidak cedal termasuk ketika mengungkapkan kata yang terdapat huruf “R”. Fadia juga kritis dan suka ngeles ketika menemukan sesuatu yang salah, seperti ketika ada salah satu anggota keluarga kami membuang sampah sembarangan, menempatkan handuk yang tidak rapi, nonton televisi dengan jarak terlalu dekat.

Fisiknya juga tergolong kuat karena sudah kami buktikan. Pertama, saat perjalanan dengan menggunakan sepeda motor ke Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. Perjalanan dari Kota Serang ke Labuan dimana kami singgah kurang lebih dua jam. Terakhir, Fadia kami ajak ke Kota Tangerang dengan menggunakan motor dan dia menikmati betul selama perjalanan. Selama di perjalanan Fadia selalu bernyanyi dan memberitahu kami saat menemukan objek yang selama ini ia kenal, seperti sungai, genangan air ataupun kendaraan besar.

“Kalau mau ke rumah nenek tuh lewat situ Bi,” katanya saat melintasi jembatan yang di bawahnya terdapat jalan tol. Memang, saat kami mudik ke rumah nenek Fadia di Brebes,Jawa Tengah, pasti melewati tol Serang.

Kembali ke cerita Fadia yang bosan dengan sekolah. Saya dan istri langsung menangkap kenapa Fadia bosan sekolah. Analisis kami, pertama adalah Fadia ingin mencari suasana baru seiring dengan usianya yang bertambah. Kedua, perkiraan kami metode pengajaran guru yang mungkin dianggap membosankan Fadia.

Meski bosan masuk sekolah tapi Fadia tidak bosan dengan aktivitas membaca. Fadia masih suka membawa buku cerita apakah itu tentang lebah, pesawat astronot, ka’bah termasuk menulis dan bernyanyi huruf. Teori-teoir yang kami pelajari tentang pendidikan anak dua hal di atas aganya mendekati kebenaran.

Beberapa hari terakhir ini, kami dibuat sumringah pula karena selain masih suka membaca, menulis dan bernyanyi. Fadia menjadi rajin shalat, tak jarang Fadia yang mengajak kami shalat berjamaan di rumah. “Ayo Bi Shalat,” ajak Fadia saat saya baru pulang kerja. Sebetulnya, kegiatan shalat sudah dilakukan Fadia saat usianya dua tahun tapi tidak seatraktif sekarang (2,6 tahun).

Jika dulu Fadia hanya berdiri tapi sekarang Fadia minta wudlu dan mengikuti gerakan shalat lengkap mulai takbiratul ikhram hingga salam. Usai salam, Fadia langsung melempar senyum dan mencium tangan saya dan istri sambil menyodorkan pipinya untuk dicium. Jujur ingin saya katakana melalui tulisan ini. Perkembangan Fadia yang begitu atraktif dan berkarakter tidak lepas dari peranan istri.

Sejak di kandungan Fadia selalu diajak bicara, saat kali pertama lahir yaitu Ahad, 20 April 2008 pukul 03.00 WIB, Fadia langsung diberi colostrum, yaitu cairan yang keluar pertama kali dari puting berwarna kekuning-kuningan. Colostrum menurut ahli kesehatan anak adalah cairan yang memiliki manfaat besar bagi perkembangan anak dan hanya sekali keluar selama proses kehamilan.

Oleh istri yang mengaku sering bergaul dengan anak kedokteran saat kuliah di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, ini mengatakan kepada saya bahwa colostrum akan membuat ketahanan tubuh anak kuat sehingga tidak mudah sakit. Tak hanya itu, istri juga memberikan stimulus yang kuat kepada Fadia sejak di kandungan sampai sekarang. Fadia juga beruntung karena istri memberikan ASI full dua tahun sebagaimana yang di anjurkan oleh Al Qur’an. “Hendakah kaum ibu menyusi anak hingga dua tahun penuh” demikianlah penggalan ayat dalam salah satu surat di Alquran. Istri sendiri alumni MIPA Fisika Sains UNS Solo.

Ini semua bagian dari proses pembelajaran kami menjadi orangtua. Banyak hal yang menggembirakan, terharu yang terkadang kami dibuat tertawa oleh tingkah Fadia. Pernah suatu ketika Fadia mengatakan kalau bapaknya ganteng atau dia tertawa sambil mengatakan “Ya ampun, ya ampun kok Ummi bisa masuk tivi gimana caranya”. Ungkapan ini terjadi saat istri masuk di BRTV tentang warung kami. Logika sistematis pikirnya berjalan begitu cepat melebihi usianya, tak heran Fadia dikenal di lingkungan keluarga saya seperti orangtua. Terima kasih ya Allah, semoga kami bisa menjaga Fadia dengan baik, mengantarkan dia ke status terhormat dan menjadi ibu cerdas kelak dikemudian hari.


Kota Serang, Minggu 5 Desember 2010

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mudik [1]. “Ha, Tiketnya Habis”!


“Maaf Pak, tiket kelas bisnis sudah habis,” kata operator pemesanan tiket Kereta Api sistem online kelas bisnis Cirebon Ekspres 25 hari sebelum lebaran. Mendengar jawab operator saya kaget dan heran karena pemesanan masih lama tapi bisa habis.


OLEH ABU FADIA


Sejak PT Kereta Api Indonesia melalui operatornya menyatakan bahwa tiket kereta jurusan Gambir-Tegal habis, saya langsung berunding dengan istri untuk membuat kebijakan baru tentang mudik. Waktu itu ada beberapa alternatif yaitu membatalkan mudik, menggunakan jasa rental mobil, minta dijemput dari rumah dan terakhir pakai jasa bus.

Setelah membuat berbagai pertimbangan yang rasional terutama rasionalisasi budget anggaran akhirnya kita memilih menggunakan jasa angkutan umum bus. Pada Senin (23/8) sekira pukul 10.00 WIB kami berdua meluncur ke agen bus Sinar Jaya di dekat Kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten, tepatnya 200 meter dari gerbang kampus beralmamater merah hati ini.

Di Agen Sinar Jaya tampak beberapa orang yang bermaksud sama dengan kami yaitu membeli tiket untuk mudik. “Waduh, untuk tanggal 7,8,9 sudah penuh paling ada untuk tanggal 6, itupun harus ikut bus jurusan Serang-Wonosobo,” kata salah seorang petugas penjual tiket kepada kami berdua. Untuk kali keduanya saya kaget dan menarik nafas, sempat bingung apakah tetap kita paksakan mudik. Waktu mudik saya yang rasional adalah mulai tanggal 6 jika tanggal sebelumnya maka tidak memungkinkan karena kantor belum libur.

Kurang lebih 10 menit saya berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan tetap mudik meski tanggal kepulanganya meleset dari waktu yang direncanakan. Bayangkan, bus yang akan kita tumpangi adalah jurusan Serang-Wonosobo sementara saya turun di Kota Brebes, Jawa Tengah. “Itukan setengah perjalanan lagi, masih jauh,” gumam saya dalam hati. Ini tentu akan menambah biaya perjalanan karena ongkos yang semestinya Rp 65.000 menjadi Rp 100.000 per orang. Lobi istri agar tetap dihitung sesuai tujuan kami ternyata gagal, biasa kalau cuaca lebaran jangan berharap bisa lobi soal harga tiket hampir dipastikan gagal.

Kami langsung boking tempat di kursi deretan kedua karena pada dertan pertama sudah dipesan. Meski semua perencanaan meleset tapi kami tetap senang karena akhirnya bisa mudik ke kampung halaman. Kami tidak memiliki alasan untuk menunda silatuarahim dengan orangtua ataupun mertua. Mudah-mudahaan perjalanan di bus mengasikan dan tidak terjebak macet.***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hah…Fadia Mau ke Bulan?


Ha, Fadia mau ke bulan?, pakai apa?”. Itulah ekspresi kami yang kaget saat Fadia, anak pertama kami yang berumur dua tahun dua bulan mengungkapkan keinginannya pergi ke bulan.

OLEH UMMI & ABI FADIA

Dede Dia mau ke bulan pakai baju astronot, terus pakai pesawat ulang-alik,” kata Fadia menjawab pertanyaan kami berdua. Jujur, kami merasa kaget dan bangga karena di usianya yang baru dua tahun dua bulan, Fadui sudah mengenal bulan, astronot dan pesawat ulang-alik. Meski sederhana tapi bagi kami ini adalah prestasi yang luar biasa karena sudah memiliki perbendaharaan kata-kata sains. Mengetahui kesempatan emas ini kami berdua pun terus memancing imajinasinya, kami terus memberkan stimulus dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Fadia.

Kalau ke bulan, Abi dan Ummi diajak ga?” tanya suami kepada Fadia. Mendapat pertanyaan ini, Fadia bukan hanya menjawab Abi dan Ummi yang akan diajak tapi juga anggota keluarga lain seperti bule, om, mba.

Abi diajak, Ummi diajak, Bule diajak, Om Ari diajak, Mba juga diajak. Dede Dia duduk sama Ummi dan Abi,” kata Fadia sambil menggerakan kedua tangganya seperti seorang guru yang sedang menjelaskan kepada anak didiknya.

Kegiatan membaca adalah kegiatan yang paling dominan yang aku lakukan dengan Fadia. Sebagai ibu yang memiliki latar belakang sains dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, saya seringkali mendekatkan Fadia dengan wawasan sains baik melalui buku ataupun peristiwa alam yang ada di sekitar rumah.

Salah satu buku sains yang kali pertama mengenalkan Fadia dengan bulan adalah Word Book Picture. Didalam buku ini, diceritakan tentang kegiatan kakak beradik yang sedang mengamati fenomena bulan. Selain itu, di buku ini diterangkan juga tentang beberapa bentuk bulan yaitu, purnama, bulan separuh dan bulan sabit. Bulan sepertinya menjadi favorit Fadia. Bulan purnama misalnya, dia selalu minta menggoreng telor sendiri karena bentuknya bulat mirip bulan purnama. “Tuh Bi, kaya bulan purnama,” teriak Fadia saat melihat bentuk telor yang digoreng bulat.

Selain bulan purnama, Fadia juga menyukai bulan sabit. “Tuh Bi, bulan sabut di atas,” teriak Fadia ketika melihat bulan sabit di atas langit. Selain sudah bisa memiliki keinginan pergi ke bulan, astronot dan pesawat ulang-alik, Fadia juga sudah bisa menyampaikan cita-citanya.

Kalau ditanya apa cita-cita Fadia maka dia akan menjawab ingin menjadi dokter anak. “Fadia ingin jadi dokter anak,” katanya dengan gayanya yang lucua. Semua itu anugerah dari sangka pencipta, tugas kita sebagai orangtua adalah memberikan stimulus agar otak dan pemikirannya terpancing. Sebagaimana diungkapkan para ahli bahwa usia dua anak adalah usia keemasan yang akan menentukan kecerdasan anak di masa mendatang.****


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gelap, Minyak Jelantah Pun Nyala


"Waduh, mati listrik lagi. Bagaimana sih PLN ini, giliran bayar tidak boleh terlambat tapi pelayanan byar pet, byar pet. Mana hari sudah malam, hujan lagi,” gerutu suami saya ketika listrik mendadak mati sekira pukul 18.30 WIB.

OLEH UMMI FADIA,S.Si

Usai shalat maghrib berjamaah di rumah, seperti biasa kami bercengkrama di ruang tamu. Fadia yang memasuki usia dua tahun bertingkah lucu, suka nyanyi sendiri dan selau melompat-lompat di atas kasus. “Ini anak tipenya kinestetik dan language, nanti sekolahnya di Peradaban saja yah,” kata suami kepada saya sambil melihat Fadia yang cengar-cengir.

Sekolah Peradaban adalah sekolah alam di Kota Serang, Provinsi Banten, yang dikelola teman-teman suami. “Umi, Umi,” teriak Fadia saat tiba-tiba listrik mati. Suasana mendadak ramai, saya mencari lilin sedangkan suami mengamankan Fadia.

Lilin kemana yah, waduh ternyata habis juga, tapi tidak perlu beli Bi, nanti Ummi carikan solusi sepertinya pakai minyak jelantah bisa nyala,” kata saya kepada suami. Setelah mondar-mandir mencari gelas hias yang biasanya digunakan untuk penerangan kolam mungil di taman rumah akhirnya suasana mulai tenang.

Empat gelas ukuran mini telah dikumpulkan ke dalam satu tempat. “Beli lilin saja sih Mi,” kata suami yang ingin praktis dan tidak perlu repot-repot. Selang beberapa menit kemudian, kedipan lampu dari minyak jelantah yang ditaruh di gelas mungil tampak. “Tuh kan nyala, Ummi gito loh. Akhwat jenius,” kata saya kepada suami sambil membanggakan diri.

Bulan Februari 2010 sering terjadi pemadaman bergilir di beberapa wilayah Kota Serang, Provinsi Banten, dimana saya berlabuh. Konon, ini akibat PLN kekurangan pasokan listrik yang sebetulnya alasan ini membuat saya bingung. “Laut kita luas, angin juga cukup, banyak energi alam yang bisa dimanfaatkan menjadi sumber tenaga listrik. Kenapa kok masih kekurangan pasokan tenaga listrik, aneh,” gumam saya kepada suami.

Namun saya harus sadar, menggerutu saja tidak akan menyelesaikan masalah. Toh, mulai dari Direksi PLN sampai Presiden SBY tidak tahu kesulitan keluarga kami ketika mati lampu. “Sebagai rakyat biasa, saya harus tetap semangat untuk ikut serta dalam program penghematan energi,” gumam saya untuk menghibur diri.

memanfaatkan minyak goreng bekas atau sering disebut jelantah. Yah, ini ide yang muncul tiba-tiba ketika mati listrik malam hari. Yah, paling tidak saya tidak perlu membeli lilin setiap mati listrik. Selain itu, penggunaan minyak jelantah untuk penerangan juga untuk menghemat tenaga listrik dan ramah lingkungan.

Sebab, dengan lampu saving energy, sama halnya penambahan pemakaian listrik pada saat pengisian. Menggunakan lampu minyak tanah pun sudah langka dan cukup berbahaya. Menggunakan lilin, selain merupakan salah satu hasil tambang kalau matinya tiap hari bisa habis berdus-dus akibatnya arti penghematan itupun akan hambar.

Pakai genser?. Wauh, rumah tangga pakai barang ini mewah banget tuh. “Kalau penerangan pakai genset beberapa saat nyala langsung diprotes tetangga, lah iya brisiknya minta ampun kok. Selain itu, kalau pakai genset sama halnya mengganti listrik dengan bensin, dimana lagi arti penghematan sumber daya alam,” kata saya diskusi dengan suami.

Lalu apa yang kita lakukan agar hemat sumber daya alam tapi rumah tetap terang. Awalnya saya tidak terpikirkan menggunakan minyak jelantah tapi setelah melakukan pemikiran, saya mencoba memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakar lampu. Loh kok minyak jelantah bisa nyala?.

Ingat dengan mainan perahu yang digemari anak-anak. Coba, ingat-ingat bahan bakar apa yang digunakan perahu itu sehingga bisa menjadi energi untuk menggerakan perahu tersebut. Minyak jelantah bukan?. Ingin tahu cara membuatnya agar rumah kita tetap terang meski mati lampu tanpa harus membeli lilin. Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan.

Siapkan satu lilitan kapas dengan panjang kurang lebih 3 cm. Lalu?, sebentar dulu sabar yah. Setelah itu siapkan satu yang kira-kira cukup bisa digunakan untuk membuat lubang pada satu buah tutup botol sirup atau minuman lainnya (yang pasti jangan tutup botol Aqua, pasti meleleh). Buat lubang di tutup botol tersebut melebar agar aliran panas tidak terperangkap.

Tumpahkan minyak jelantah ke dalam botol lalu masukan kapas yang sudah dililit ke lubang botol agar menjadi sumbu api. Terakhi, apungkan tutup botol yang sudah bersumbu di atas minyak yang telah di taruh di gelas. Nyalakan sumbunya dengan korek, nyala deh!. Sederhana bukan?. Sok coba praktekan biar bisa ngirit belanja rumah tangga.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Si Kecil Membuat Analisa


Membaca bukan saja menambah wawasan si kecil tapi ternyata bisa mengendalikan tantrum anak. Demikian diungkapkan seorang penulis buku Ann E Laforge.

OLEH UMMI FADIA

Awalnya saya bingung ketika melihat Fadia (2), anak pertama kami yag tiba-tiba ngambek tanpa sebab. Ternyata itulah yang disebut tantrum. Cara yang efektif untuk meredakan badai rewel balita atau tantrum adalah membaca, terutama bacaan yang menceritakan karakter rasa seperti sedih, senang, terkejut, termasuk ekspresi frustasi sekalipun.

Untuk urusan membaca bagi saya tidak menjadi masalah karena sejak usia delapan bulan, Fadia sudah saya kenalkan dengan kegiatan membaca. Alhamdulilah buku tidak hanya mengembangkan kemampuan berpikirnya tapi juga kemampuan motoriknya seperti membuka lembaran buku yang tipis.

Seiring dengan bertambahnya usia Fadia, sifat “Keakuan” Fadia makin besar yang harus disikapi dengan benar dan tepat sehingga si kecil tidak mengalami kebingungan untuk memaknai sebuah kebenaran.

Salah satu contoh, sebagai keluarga muslim saya membiasakan menutup aurat karena ini adalah salah satu karakter dan kewajiban umat muslim yang bisa membedakan dengan umat lain.

Fadia terbiasa pakai jilbab sejak usia 3 bulan, tapi sejak masa negatifistiknya tumbuh, dia sering menolak memakai jilbab. Di sinilah orangtua “dipaksa” konsisten untuk menerapkan aturan tidak tertulisnya. Apabila kita kalah dengan berontaknya anak maka membingungkan anak itu sendiri.

Salah satu cara yang saya lakukan adalah mengajak membaca buku yang ada kaitannya dengan jilbab. Sampailah saya menemukan buku berjudul “ Aku Cantik Pakai Jilbab”. Dalam buku tersebut hampir disemua halaman menampilkan dialog sang tokoh yang bernama Saliha dan ibunya.

Namun, di beberapa halaman dari buku tersebut gambar ibu yang sedang berdialog dengan Saliha tidak dimunculkan oleh penulis. Inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan Fadia. Tak lama setelah melihat halaman itu munculah pertanyaan dari si kecil. “ Ummi, ibunya mana?” tanya Fadia.

Sampai sekarang saya sendiri tidak mengetahui apa alasan sang penulis tidak menampilkan gambar sang ibu. Tapi analisis si kecil yang ditunjukan dengan melontarkan pertanyaan itu cukup membuat kagum karena stimulus analisisnya sudah mula bergerak .

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Palestina, Aku Bersamamu [2-HABIS]


Usai shalat dhzuhur di Masjid Istiqlal, Jakarta, saya kaget karena tas rangsel yang berisi pakaian, sandal, dan kacamata, tidak ada di tempat dimana saya menaruhnya. Berulangkali mondar-mandir tak juga ketemu hingga membuat saya dan istri cemas. Beruntung, akhirnya tas tersebut ditemukan oleh istri dengan sedikit kerja keras.


OLEH ABU HAZIMAH AYU FADIA


Disambut rintik hujan, Sabtu (20/3) sekira pukul 11.00 WIB, kami bertiga tiba di Masjid Istiqlal, Jakarta. Usai di memarkir kendaraan di salah satu sudut halaman Istiqlal, kami langsung menuju ke ruang dalam masjid untuk shalat sunnah. Bagi saya, kunjungan ke masjid bersejarah ini merupakan yang ketujuh kalinya. Namun demikian, suasana ngresep di masjid Istiqlal tetap terasa dan membuat ibadah lebih nyaman.

Masjid inilah yang menjadi titik awal aksi Palestina, sebelum akhirnya bergerak ke Monumen Nasional (Monas) dilanjutkan longmarch ke Bunderan Hotel Indonesia (HI). Meskipun baru kali pertama turun aksi, Fadia tampak menikmati dengan keceriaan. Rok panjang dengan motif bunga warna merah dan kerudung merah membuat Fadia terlihat lebih dewasa dari usia aslinya, yang baru satu tahun sembilan bulan.

Ruangan Istiqlal yang luas membuat Fadia merasa nyaman untuk berjalan sambil jingkrak-jingkrak. Kacamata yang dipakai menambah terlihat lucu dan cantik, apalagi ketika kacamatan selalu turun karena hidungnya kurang mancung. Bahkan, beberapa menit menjelang dzuhur, Fadia mulai bertingkah dengan bernyanyi sambil menari dengan cara mengitari badan saya, yang sedang duduk di salah satu tiang Istiqlal.

Fadia bukanlah satu-satunya anak-anak yang dibawa aksi Palestina. Penglihatan saya, hampir seluruh peserta aksi yang membawa anak kecuali mahasiswa dan pelajar. Ada satu semangat yang ingin kita tanamkan kepada anak-anak supaya memiliki wawasan global tentang dunia. Palestina merupakan negara muslim yang sejak 42 tahun berada di cengkraman Israel. Bahkan, Israel akan membongkar majsid Al-Aqsa setelah sebelumnya melumat sebagian tanah Palestina.

Kita ingin, anak-anak mengerti bahwa persoalan Palestina bukanlah masalah bangsa Arab saja. Namun, persoalan umat muslim dan ini adalah soal penjajahan dunai yang harus dihapuskan. Jutaan rakyat Palestina meninggal dunia akibat kekejian Israel, mirip kekejaman yang pernah dilakukan Adolf Hitler, di Kamp Konsentrasi, Jerman.

Kita ingin katakana kepada rakyat Palestina bahwa anak-anak Indonesia pun peduli terhadap anak-anak Palestina, yang saat ini kehilangan tempat tinggal, orangtua, sekolah dan masa anak-anak. Isreal telah menghancurkan masa depan anak-anak Palestina.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Palestina, Aku Bersamamu [I]


Pekikan takbir dari ribuan orang menggema dari Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu (20/3) sekira pukul 13.00 WIB. Yah, ribuan orang ini ingin membuktikan kepada dunia, khususnya zionis Isreal yang menjajah negeri muslim Palestina selama 42 tahun.


OLEH ABU HAZIMAH AYU FADIA

Percikan air dari langit tidak menyurutkan semangat dan gelora rakyat Indonesia untuk menyuarakan dukungannya kepada rakyat Palestina. Di tengah deru knalpot dan raungan klakson, para demonstran mulai berjalan dari Masjid Istiqlal menuju ke lapangan Monas.

Di tempat inilah, panggung besar lengkap dengan sound sistem ribuan watt tertata apik. Di atas panggung tampak sejumlah tokoh nasional, diantaranya mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hidayat Nurwahid, anggota DPR RI dari PKS Yoyoh Yusroh dan fungsionaris PDI Perjuangan Sabam Sirait. Di depan dan belakang panggung utama, ribuan orang tak henti-hentinya meneriakan takbir penuh semangat sambil mengibarkan bendera Palestina dan Indonesia, sebagai simbol bahwa Indonesai sebagai negara muslim terbesar di dunia akan selalu bersama-sama mengusir penjajah di atas muka bumi.

Dalam orasinya, Yoyoh Yusroh menceritakan kunjungannya selama beberapa hari di Palestina. Peluh dan perih yang dirasakan rakyat Palestina tidak akan pernah menyurutkan semangat perlawanan untuk mengusir Israel. Dalam pertemuannya dengan pemerintah Palestina, Yoyoh terharu dan bangga dengan rakyat Palestina yang tidak gentar sedikitpun menghadapi Israel. “Mereka juga menyayangkan pemimpinan negara musim yang pengecut,” teriak Yoyoh.

Jarum jam menunjukan angka 14.00 WIB, ribuan demonstran tetap bertahan di Monas dengan gelora semangat membaja sebagai pesan kepada rakyat Palestina bahwa mereka tidak sendiri. Ada ribuan dan jutaan rakyat Indonesia yang tak akan pernah tidur nyenyak sebelum Palestina merdeka. Saya, istri dan Fadia, anak pertama kami selalu bersamamu Palestina. Selamat Berjuang.***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Soal Hutan, Si Kecil Ingin Terlibat


Dunia merasa khawatir dengan tingkat kerusakan hutan di Indonesia yang cukup cepat, meski pemerintah mengklaim laju kerusakan hutan berkurang dari 2,3 juta hektar per tahun pada periode 1997-2000 menjadi 1,08 juta hektar per tahun pada periode 2000-2006 [www.kompas.com]. Namun, melihat fakta di lapangan masih banyak masyarakat yang tidak peduli terhadap kondisi hutan kita. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia

Sebagai warga biasa yang tidak memiliki jabatan apapun saya hanya mampu mengajak si kecil untuk lebih dekat dengan tanaman. Yah, paling tidak dia tahu kalau menanam tanaman itu banyak manfaatnya. Bukan hanya menambah keindahan dan keelokan rumah tapi juga sebagai symbol bahwa kita adalah salah satu dari jutaan manusia yang peduli tentang lingkungan.

Awalnya juga saya tidak terlalu tertarik menulis soal hutan. Namun setelah membaca di beberapa media diantaranya Kompas dan Media Indonesia, ada fakta yang mencengngkan soal kondisi hutan Indonesia. Di Provinsi Banten saja, dimana saya berdomisili, tercatat 120 ribu dari 22,1 hektar hutan di Banten dinyatakan kritis. Bahkan, sekitar 12 ribu hektar dari lahan kritis telah gundul. Kerusakan terparah ada di Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang.

Kalau dilihat dari apa yang saya lakukan bersama si kecil rasanya tidak mencukupi untuk mengimbangi tingkat kerusakan hutan saat ini. Tapi, paling tidak saya bisa menjawab ketika ditanya sang pencipta manakala di akhirat. “Apa yang kamu lakukan terhadap alam selama kamu hidup,” demikian kira-kira pertanyaan sang pencipta kepada saya kelak.

Setiap sore usai pulang kerja saya dan istri mengajak si kecil bersama-sama menyirami beberapa jenis tanaman yang ada di rumah. Dua pohon cemara, tiga pohon pucuk merah adalah beberapa jenis tanaman yang menghiasi rumah mungil kami. “Ayo Mi, yang itu belum disiram,” kata Fadia dengan ekspresi menggemaskan seraya menunjukan jari telunjuknya ke arah cemara.

Gemercik air dari taman mungil kami menambah suasana terasa di alam terbuka. Biasanya kalau sudah semangat menyiram tanaman, Fadia enggan beranjak dan butuh kerja keras untuk merayunya. Kami percaya sekecil apapun keterlibatan Fadia soal lingkungan akan membawa dampak positif saat dewasa nanti. Menurut psikolog, karakter seorang yang dewasa sangat dipengaruhi masa kecilnya. Tatkala, seseorang hidup dalam perkataan yang kasar dari orangtua atau lingkungan terdekatnya semasa kecil maka saat dewasa pun ia akan tumbuh menjadi pribadi yang kasar.

Sebaliknya, jika seseorang hidup dalam masa penuh kasihsayang dan hangat maka orang tersebut akan menjadi manusia penyayang saat dewasa. Oooh jadi kemana-mana nih. Oke deh, kita kembali ke tema awal soal si kecil yang peduli lingkungan. Intinya kita harus menjaga hutan Indonesia agar tetap berseri dan indah dipandang mata. Hutan kita terluas kedua loh Se-Dunia. Dari berita di www.kompas.com, tercatat hutan Indonesia kini terluas kedua di dunia. Dari 126,8 juta hektar hutan, 23,2 juta ha adalah hutan konversi, 32,4 juta ha hutan lindung, 21,6 juta ha hutan produksi terbatas (HPT), 35,6 juta ha hutan produksi, dan 14 juta ha hutan produksi konversi (HPK).***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cegah Gigi Berlubang, Oh Menyenangkan


Menjadikan aktifitas mandi yang menyenangkan bagi si kecil yang sudah tumbuh egonya bukan hal mudah. Tapi juga bukan hal yang sulit karena justru menjadi kegiatan yang menyenangkan asalkan kita kreatif. Pengalaman ini saya alami sendiri sebagai ibu muda yang dikaruniai seorang anak perempuan.

Oleh Ummi Fadia


Kemampuan bicaranya cukup baik karena mampu merangkai 4-5 kata meski usianya baru 1,7 tahun. Melihat perkembangan Fadia, panggilan akrab anak pertama saya. Kami tak mau si kecil mengalami gigi keropos yang bisa menghambat kejelasan lafal katanya. Gosok gigi usai mandi menjadi kebiasaan Fadia setiap harinya.

Awalnya, saya mengalami kesulitan tatkala Fadia enggan gosok gigi dengan alasan macam-macam. Namun, lambat laun Fadia sudah terbiasa dengan gosok gigi, tentunya menggunakan pasta gigi dan sikat yang sesuai anak-anak. Tak hanya itu, aktivitas gosok gigi ini menjadi acara menyenangkan bagi si kecil karena menemukan permainan baru. Gosok gigi bukan sekedar aktifitas membersihkan gigi tapi aktifitas ini juga turut andil dalam stimulasi motorik halus anak.

Sifat fadia yang aktif cukup sulit bagi saya untuk membantunya menyikat gigi. Dia lebih suka melakukannnya sendiri. Sehingga cara terbaik adalah dengan melakukan sikat gigi secara bersama-sama. Sehingga perilaku meniru pada usianya itulah yang kita manfaatkan untuk bisa melakukan pembersihan gigi. Dengan mengajarkan cara menyikat gigi yang benar yaitu dengan Penyikatan gigi dilakukan dengan gerakan memutar pada gigi anterior maupun posterior atau biasa disebut metode fons.

Metode ini adalah metode yang mudah dilakukan bagi anak. Tentu pada saat tertentu kita yang melakukan penyikatan. Biasa fadia akan minta bantuan saat dirinya sudah merasa cukup puas, dantentunya sikkap tes cari perhatian. Saat itulah saya masuk untuk melatihnya langsung menggosok gigi. Beruntung saat ini sudah ada pasta gigi yang aman jka ditelan meskipun belum tersedia secara mudah di toko-tok. Kami masih harus membelinya langsung di babyshop.

Tapi yak apa karena banyak manfaat saat kita menyikat gigi sikeci. Manfaat sehat, perkembangan motoris, kedekatan emosi dan tentunya juga mengajarkan kerjasama.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ikan Berduri Bukan Bertulang


Untuk kesekian kalinya kami dibuat kagum dengan perkembangan Fadia. Saat usianya 1 tahun 3 bulan, Fadia sudah memiliki kosakata lebih dari 200 kata.

Ada cerita lucu dan bangga saat Fadia makan siang. Ketika itu Fadia diberi lauk kesukaannya yaitu ikan goreng.

Karena memang hobi banget, Fadia langsung mengambil sendiri ikan yang ditaruh dipiring dan tanpa menunggu imbaun dari kami kalau ikan cukup mengkhawatirkan karena ada durinya. “De, awas tulangnya loh!” kata saya saat mengingatkan Fadia.

Di luar dugaan kami Fadia langsung menjawab kalau ikan tidak memiliki tulang melainkan duri. “Ukan ulii,” kata Fadia. Kalau dalam bahasa orang dewasa Fadia bermaksud menjelaskan bahwa ikan itu tidak memiliki tulang tetapi duri. Kini, diusianya yang memasuki 1tahun 7 bulankami masih terus menunggu perkembangan yang membanggakan.

Sebagai orangtua kami ingin mensukseskan cita-citanya menjadi generasi yang berkualitas. Tak mudah memang untuk menuju ke arah sana tapi tetap harus dimulai dalam wujud perlakuan yang baik dengan dasar ilmu dari berbagai pakar pendidikan anak.

Masa depan Indonesia ditentukan oleh cara kita mendidik anak mulai dari mengandung hingga dewasa. Wajar kalau kemudian pemerintah Argentina memberlakukan undang-undang cuti hingga enama bulan bagi wanita yang melahirkan. Pertanyaanya kenapa enam bulan?. Sebab, para ahli kesehatan berpendapat bahwa anak usia 0-6 bulan wajib diberi ASI, karena hanya dengan ASI kualitas anak ditentukan. Sebuah terobosan yang luar biasa dan terlihat lebih Islami, di dalam kitab suuci ummat Islam sendiri tepatnya Al Qur’an Qs Al-Baqarah:233, Allah memerintahkan agar kaum ibu menyusui anaknya hingga dua tahun utuh.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempuranakan penyusuannya” demikian kata Allah SWT di dalam surat tersebut.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sok Sibuk…..Gitu


Mondar-mandir sambil membawa tali pengikat fiber, jari telunjuknya diarahkan pada tali yang sudah dimasukan ke dalam lubang fiber. Cuaca panas siang itu tidak dihiraukan lagi seolah tidak merasa. Pokoknya so sibuk gitu deh…


Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia


“Mba ayik, mba yik” teriak Fadia sambil menunjukan jari telunjuk ke seutas tali warnah putih. Sabtu (24/10) sekitar pukul 11.00 WIB saya dan Mba Sur, orang yang selama ini membantu beres-beres rumah sedang memasang fiber pada pagar besi. Seperti aktivitas lainnya yang tidak membahayakan, saya dan istri akan membiarkan Fadia nimbrung dengan tujuan otaknya akan terpantik dengan sesuatu.

Selama proses pemasangan kurang lebih satu jam, Fadia tampak sok sibuk gitu deh. Bolak-balik depan belakang, kanan-kiri sambil membawa seutas tali. Tak hanya itu, sesekali Fadia sambil berteriak minta tolong. Saya dan si mba yang melihat tingkahnya hanya tertawa sambil membantu memasukan talinya.

Beberapa hari sebelumnya, saya dan Umi juga dibuat haru dan tertawa saat Fadia menirukan gerakan dan ucapan kami berdua saat membuat rencana penambahan ruang rumah. Fadia berlagak seperti tukang yang paham tentang struktur bangunan atau arsitektur bangunan. Fadia bolak-balik dari pojok tembok yang satu ke tembok yang lainnya sambil menggerakan tangannya. Tak hanya itu, Fadia juga berkata sambil memegang pojok tembok. “Ini ama ono,” kata Fadia sambil menunjukan jarinya ke pojok tembok paling ujung , yang membuat kami berdua tertawa, gayanya itu loh. Sok sibuk, sok yes dan sok ngerti.

So sibuknya akan semakin terlihat ketika menemukan permainannya sendiri. Seperti bernyanyi sambil membawa bonek lebah, si Dino ataupun si beruang. Wah, kalau sudah pada episode ini kami yang besar nyerah dan akan diminta untuk turut bernyanyi. Biasanya, kalau kita berhenti bernyanyi maka Fadia akan meminta nyanyi lagi. Tak hanya itu, kita yang ada di sekelilingnya harus bertepuk tangan. Pokoknya super sibuk dan so yes banget.

Andaikan kita menjauh maka Fadia akan langsung menggandeng tangan kita untuk diminta menemani lagi. Ha…inilah anugerah Allah SWT yang terindah. Pernah kejadian juga dia minta main-main malam hari dari pukul 22.00 WIB sampai 23.30 WIB. Benar-benar melelahkan tapi menyenangkan dan bangga. ****

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Belajar Shalat Yuk…..

Mi, lat, mi lat.” Teriak Fadia kepada istri seraya menyerahkan mukenah batik. Kami berdua sebagai orangtua merasa bersyukur karena Fadia (1,4 tahun) terlihat pro aktif seperti mengajarkan kita untuk selalu belajar shalat, yang artinya memperbaiki shalat.

OLEH ABU HAZIMAH AYU FADIA

Di dalam buku fiqh sunnah karangan Sayyid Sabiq, shalat adalah ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan membaca takbir dan diakhiri dengan mengucapkan salam. Kedudukan shalat dalam Islam menempati posisi yang tidak bisa diremehkan. Tak heran, jika perintah shalat wajib dikerjakan bagi yang sudah dewasa dalam kondisi apapun. Shalat adalah ibadah pertama yang diwajibkan oleh Allah SWT, yang perintahnya langsung disampaikan kepada Muhammad saw melalui perjalanan malam Isro Mi’roj.

Melihat geliat Fadia, istri pun langsung mencari mukaneh anak-anak yang beberapa hari sebelumnya dibeli. Imut, gemas dan kagum, itulah perasaan kami ketika melihat wajah Fadia menggunakan mukenah yang berhiaskan mitif bunga berwarna pink. “Cantik amat yang anak ummi,” kata istri sambil mencium pipinya yang cabi-cabi. Kondisi badan istri yang saat itu sedang kurang enak karena terserang flu, mendadak siuman melihat geliat Fadia yang ingin belajar shalat.

Warna hijau tembok rumah dan taman mungil di sisi tempat shalat menambah keyakinan dan rasa syukur kami memuncak. Bunga dan ikan hias di dekat kami bertiga menyaksikan kebahagiaan hamba-hambaNya yang ingin menjadi manusia bersyukur. Usai shalat, nafas terasa lega dan batinpun terasa lapang. Tentramdan tenang itulah percikan dari air wudhu, gerakan shalat dan ungkapan penyadaran akan kelemahan sebagai seorang hamba.

Jujur, saya sendiri terkadang masih muncul pertanyaan manfaat shalat untuk kehidupan di dunia. Jika manfaat akhiratnya jelas pasti jaminannnya yaitu syurga. Setelah ditelisik dengan membaca, mendengarkan dan mempraktekan sendiri ternyata shalat memiliki pengaruh yang luar biasa bagi perjalanan kehidupan pribadi seseorang. Dalam sebuah acara ramadhan tahun 2008 lalu, seorang ustad yang dikenal dengan menajemen shalatnya, mengatakan, shalat mampu membuat tulang rusuk, syaraf otak dan persendian seseorang lebih sehat. Syaratnya, jika gerakan shalat dilakukan dengan benar.

Bahkan, air wudhu yang kita lakukan sebelum shalat bisa bermanfaat untuk meregangkan otot-otot yang tegang. Sekali lagi, semua itu akan kita dapatkan jika dilakukan dengan benar. Benar atau tidaknya silahkan lakukan sendiri dengan ikhlas, benar dan terus menerus. *****




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ma Acih dan Mandiri


Kemarin, Fadia dikasih buah jeruk sama mbok Jem?. Terus Fadia bilang apa?. Demikian pertanyaan istri kepada Fadia, anak pertama kami yang usianya baru 1,3 tahun. Tanpa disangka, Fadi melontarkan jawaban yang membuat kita haru dan bangga yang tidak terpikirkan oleh kami yaitu Ma Acih..


Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia


Karena ingin lebih yakin, apakah jawaban itu spontan ataukah sudah menjadi kebiasaan. Saya dan istri kembali mengulang pertanyaan tersebut dan selalu dijawab dengan kata ma acih. Menurut cerita Bu De, orang yang ngemong Fadia ketika kami berdua kerja, si mbok yang mendengar jawaban Fadia pun terharu dan memeluknya dengan rasa haru dan bangga. Subhanallah, terima kasih ya Allah atas karuniaMu yang telah menitipkan Fadia kepada kami. Semoga kami bisa menjadi hambaMU yang amanah, amin (doaku sambil menulis kisah mengharukan ini).

Selain sudah mampu mengucapkan ma acih, Fadia juga memiliki kemandirian yang luar biasa. Aktivitas keseharian seperti makan, minum, membuang sampah, menaruh pakaian ganti, mandi, menyapu dan bermain laptop, ingin dilakukan sendiri. Padahal, usianya baru menginjak 1,3 tahun. Atas sikap ini, kami sering merasa khawatir karena keamanannya. Sebelum bisa berjalan yaitu saat usianya 9 bulanan, Fadia pun ingin berlatih berjalan tanpa ingin dibantu. Kami pun hanya mensiasati dengan membiarkan Fadia, mendorong baby stroller yang tidak dinaikinya lagi.

Kami berdua menyadari jika sikap Fadia seperti itu merupakan sesuatu hal yang bagus untuk masa depan anak. Seperti yang dikatakan oleh Prof. Reni Akbar Hawadi, Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia (UI), Jakarta, bahwa kemandirian anak merupakan titik tolak untuk menjadikan anak Indonesia generasi yang unggul. Dalam penjelasannya yang ditulis di majalah Nakita, edisi pertengahan Juli 2009, Reni menjelaskan panjang lebar soal tema besar pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 23 Juli 2009.

Menurut Reni, anak Indonesia yang unggul baru berkisar antara 1-3 % atau sekitar 600 ribuan anak dari total anak Indonesia yang berjumlah sekitar 20 jutaan. Fakta yang diungkapkan oleh Reni ini mesti menjadi perenungan bagi para orangtua. Jika data yang disebutkan oleh Reni ini benar maka wajar jika bangsa Indonesia belum menjadi bangsa yang maju, meskipun memiliki kekayaan alam yang melimpah.

Berbeda dengan tetangga kita seperti Malaysia dan Singapura yang sudah menyodok kita. Padahal, kekayaan alam mereka tipis dan memprihatinkan ( eh jadi kemana-mana nih…ga papa lah sekalian tambah wawasan). Kembali kecerita Fadia, saya sendiri sudah beberapa kali dikejutkan oleh perkembangan Fadia. Suatu hari, usai Rata Penuhrekreasi di SDIT Nur El-Qolam, Minggu (19/7/2009) sekitar pukul 18.30 WIB, saya mengaktifkan laptop mungil saya dan tanpa disangka, Fadia membawa flasdisk dan berupaya memasukan barang tersebut ke port yang memang untuk flasdisk.

Yang membuat saya haru dan kagum, Fadia seperti sudah mengerti posisi yang tepat untuk falsdisk padahal usianya baru 1,3 tahun. Melihat perkembangan fisik, mental dan kecerdasannya yang unik, mengharukan dan mengaggumkan tersebut. Kami berdua sepakat untuk menyekolahkan Fadia di kelas holistik di sekolah yang berada di lingkungan perumahan. Tak hanya itu, kami juga mendaftarkan Fadia ke kidslab dengan harapan akan lebih terarah, karena dibimbing oleh guru secara sistematis. Sayang, usia Fadia belum mencukup karena anak yang diterima minimal usia 3 tahun sedangkan Fadia baru 1,3 tahun. ****

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS